Trieste, suararepubliknews.com – Minggu, 7 Juli 2024, Paus Fransiskus mengkritik politik populis yang disebutnya sebagai “sampah ideologi” dan memperingatkan bahwa demokrasi dalam kondisi tidak baik di beberapa bagian dunia. Pernyataan ini disampaikan saat kunjungan singkatnya ke kota Trieste di timur laut Italia.
Kunjungan dan Konteks
Paus berusia 87 tahun ini melakukan perjalanan keempatnya di Italia dalam waktu lebih dari dua bulan, sebagai persiapan untuk perjalanan panjang melintasi Asia pada bulan September mendatang.

Dalam konvensi tahunan Katolik Roma tentang bidang sosial, Paus Fransiskus menyoroti perasaan banyak orang yang merasa dikucilkan dari demokrasi, di mana orang miskin dan lemah dibiarkan berjuang sendiri.
Kritik Terhadap Polarisasi dan Keberpihakan
“Dengan jelas terlihat bahwa demokrasi tidak dalam keadaan sehat di dunia saat ini,” kata Paus Fransiskus, mengecam polarisasi dan keberpihakan yang semakin menguat. Ia membandingkan ideologi-ideologi populis dengan kisah Pied Piper dari Hamelin, yang merayu orang-orang tetapi akhirnya membuat mereka menyangkal diri mereka sendiri.
Peringatan Tentang Krisis Demokrasi
Paus Fransiskus menyampaikan bahwa krisis demokrasi menimpa berbagai negara, meskipun ia tidak menyebutkan contoh spesifik. Pernyataan ini datang pada hari ketika Prancis mengadakan pemilihan parlemen, di mana partai sayap kanan National Rally (RN) diperkirakan akan meraih suara terbanyak. Ini hanya sebulan setelah partai-partai populis meraih kemenangan dalam pemilihan umum Uni Eropa.
Seruan untuk Kepentingan Bersama
“Janganlah kita tertipu oleh solusi-solusi yang mudah. Marilah kita lebih mengutamakan kepentingan bersama,” kata Paus, menyoroti kerusakan yang disebabkan oleh “korupsi dan ilegalitas” politik. Paus juga menekankan pentingnya mengajarkan nilai-nilai demokrasi kepada anak-anak dan memperingatkan bahwa “ketidakpedulian adalah kanker demokrasi”.
Kekhawatiran Terhadap Partisipasi Pemilih
“Saya prihatin dengan sedikitnya jumlah orang yang memberikan suara. Mengapa hal itu terjadi?” tanyanya, mengungkapkan keprihatinannya terhadap rendahnya partisipasi pemilih.

Dalam homili pada Misa terbuka, Paus mengecam rasa puas diri yang meluas terhadap ketidakadilan sosial, mempertanyakan mengapa orang tidak tergugah oleh kejahatan yang merajalela, kehidupan yang dihina, masalah ketenagakerjaan, dan penderitaan para migran.
Kunjungan ke Trieste dan Rencana Perjalanan Mendatang
Kunjungan setengah hari ke Trieste ini menyusul perjalanan serupa ke Venesia dan Verona pada bulan April dan Mei, serta pidato di hadapan para kepala negara Kelompok Tujuh di Italia selatan pada bulan Juni. Meskipun mengalami masalah kesehatan selama setahun terakhir, Paus Fransiskus tetap berusaha menjaga stamina dan melanjutkan pekerjaannya.

Pada bulan September, Paus akan melakukan perjalanan terpanjang dalam masa kepausannya, dengan jarak lebih dari 32.000 km (19.900 mil) mengunjungi Indonesia, Papua Nugini, Timor Leste, dan Singapura. Perjalanan ini akan menjadi ujian ketahanan fisik dan komitmen Paus dalam menyebarkan pesan damai dan solidaritas di seluruh dunia. (Stg)
Sumber: Reuters “Pope decries populists, warns democracy is in bad health”









