OKI — Suara republik news. Com, Dugaan penjualan besi hidrolik truk yang disebut-sebut berkaitan dengan barang milik seorang warga bernama Aji kini berujung pada penanganan aparat kepolisian. Persoalan tersebut mencuat di wilayah Jalan Lintas Timur, Desa Mulya Guna, Kecamatan Teluk Gelam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
Kasus ini menjadi perhatian setelah awak media Suara Republik News melakukan investigasi pada 27 Agustus 2026 terkait dugaan transaksi barang rongsokan yang diduga memiliki kaitan dengan barang milik warga.
Dalam penelusuran di lapangan, awak media memperoleh informasi mengenai seorang pria yang diduga menjual besi hidrolik truk. Belakangan, barang tersebut disebut oleh pihak tertentu sebagai barang milik Aji yang diduga hilang.
Informasi mengenai asal-usul barang tersebut pun menjadi pertanyaan. Berdasarkan keterangan yang dihimpun, terdapat dugaan bahwa besi hidrolik tersebut berasal dari barang yang sebelumnya dinyatakan hilang.
Dugaan tersebut kemudian dikaitkan dengan sebuah lapak rongsokan milik Teguh. Namun demikian, sejauh ini belum terdapat kesimpulan hukum yang menyatakan bahwa pemilik lapak maupun pihak tertentu terlibat dalam kehilangan ataupun penjualan barang tersebut.
Semua dugaan tersebut masih harus dibuktikan melalui penyelidikan dan alat bukti yang sah.
Berawal dari Dugaan Barang Hilang
Saat awak media mendatangi kediaman Aji untuk meminta klarifikasi sekaligus mengupayakan penyelesaian secara musyawarah, diperoleh informasi bahwa pihak Aji disebut meminta penggantian kerugian sebesar Rp18 juta.
Informasi mengenai permintaan ganti rugi tersebut diperoleh dari pihak keluarga maupun pihak yang berada di lingkungan lapak rongsokan.
Alih-alih persoalan berkembang menjadi saling tuding, awak media mendorong agar perkara tersebut segera diserahkan kepada aparat penegak hukum. Langkah tersebut dinilai penting agar asal-usul besi hidrolik, kepemilikan barang, proses transaksi, hingga pihak yang menjual dan membeli dapat diperiksa secara objektif.
Dengan demikian, tidak ada pihak yang mengambil kesimpulan sendiri atau saling melempar tuduhan tanpa dasar hukum.
Wartawan Mengaku Diintimidasi
Persoalan ini juga berkembang ke ranah kebebasan pers. Dalam proses peliputan sebelumnya, awak media mengaku mengalami tindakan yang dinilai sebagai upaya menghalangi kegiatan jurnalistik.
Seorang pria yang disebut bernama Irawan, yang mengaku sebagai anak angkat Aji, diduga menghalangi wartawan berinisial M.E. ketika sedang menjalankan tugas jurnalistik untuk meminta keterangan pada 25 Agustus 2026.
Wartawan tersebut juga mengaku mendapatkan intimidasi dalam proses peliputan.
Atas kejadian tersebut, ketentuan mengenai kemerdekaan pers merujuk pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Pasal 4 ayat (1) menegaskan bahwa kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara.
Sementara itu, Pasal 18 ayat (1) UU Pers mengatur mengenai tindakan yang dengan sengaja menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan mengenai kemerdekaan pers.
Kini Berujung ke Polsek Teluk Gelam
Perkara dugaan penjualan besi hidrolik tersebut kini telah dilaporkan dan ditangani Polsek Teluk Gelam.
Masyarakat berharap kepolisian tidak hanya berhenti pada persoalan siapa yang menjual atau siapa yang membeli, tetapi juga mengusut secara menyeluruh dari mana barang tersebut berasal, siapa pemilik sahnya, bagaimana barang tersebut bisa berada di lapak rongsokan, serta bagaimana proses transaksi berlangsung.
Jika memang terbukti terdapat tindak pidana, pihak yang bertanggung jawab harus diproses sesuai hukum. Sebaliknya, apabila tuduhan tersebut tidak terbukti, maka nama baik pihak yang diduga terlibat juga harus dipulihkan berdasarkan fakta hukum.
Persoalan ini bukan sekadar soal besi hidrolik atau nilai kerugian Rp18 juta. Yang jauh lebih penting adalah memastikan kebenaran, kepastian hukum, dan tidak adanya pihak yang menjadi korban tuduhan tanpa pembuktian.
Karena itu, publik menunggu langkah Polsek Teluk Gelam untuk mengungkap perkara tersebut secara profesional, transparan, objektif, dan berdasarkan alat bukti yang sah.
Hingga berita ini diturunkan, seluruh pihak yang disebut dalam pemberitaan ini tetap memiliki hak untuk memberikan klarifikasi dan bantahan. Suara Republik News berkomitmen menjunjung asas praduga tak bersalah dan keberimbangan dalam setiap pemberitaan.(Rosita)










