Nabi Muhammad SAW Menunjukkan Keimanan yang Kuat dan Ketenangan dalam Menghadapi Ancaman Pembunuhan oleh Ghaurats Ibnul Harits
Bandung, suararepubliknwes.com – Setelah Perang Dzatur-Riqa berakhir, Nabi Muhammad SAW duduk sendirian di bawah sebatang pohon di Madinah. Dalam kesunyian itu, seorang kafir Quraisy bernama Ghaurats Ibnul Harits melihat kesempatan emas untuk membunuh Nabi. Ia pun mendekat dengan niat jahat, pedang terhunus di tangannya.
Dengan keberanian dan ketenangan, Ghaurats mengacungkan pedangnya ke wajah Nabi Muhammad SAW dan menantang beliau dengan pertanyaan yang penuh ancaman, “Siapa yang dapat melindungimu dariku?” Namun, dengan keyakinan penuh kepada Allah, Rasulullah menjawab dengan singkat, namun penuh makna, “Allah.”
Tiba-tiba, dalam momen yang mengejutkan, pedang yang dipegang Ghaurats jatuh ke tanah. Nabi Muhammad memungut pedang itu dan membalikkan keadaan dengan bertanya, “Sekarang siapa yang dapat melindungimu dariku?” Dalam situasi terancam, Ghaurats dengan cepat memohon ampunan kepada Nabi, “Maafkanlah saya,” pintanya.
Nabi Muhammad, yang selalu penuh kasih sayang, menawarkan Ghaurats untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, “Ucapkanlah, ‘Asyhadu ala ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.'” Namun, Ghaurats menolak untuk mengucapkannya. Meskipun demikian, ia berjanji tidak akan memerangi Nabi atau membantu pihak yang memusuhi beliau.
Dengan kebesaran hati, Nabi Muhammad SAW membiarkan Ghaurats pergi tanpa memberikan hukuman. Peristiwa ini menjadi pelajaran penting tentang kemuliaan dan keadilan yang selalu dipegang oleh Rasulullah, bahkan ketika nyawanya sendiri terancam.
Setelah itu, Ghaurats kembali kepada kabilah Ghathfan dan Muharib, dan dengan penuh kekaguman berkata kepada mereka, “Aku baru saja bertemu manusia terbaik.”
Kisah ini menggambarkan keteguhan iman Nabi Muhammad dalam menghadapi bahaya, serta sifat pemaafnya yang mulia. Peristiwa ini juga menjadi bukti nyata bahwa kepercayaan penuh kepada Allah akan selalu membawa perlindungan dan keselamatan. **
Sumber: Abdul Aziz Asy-Syinawi “Saat-Saat Berkesan Bersama Rasulullah SAW”










