TANGERANG , SUARAREPUBLIKNEWS. COM – Tepat satu tahun sudah estafet kepemimpinan Kota Tangerang berada di tangan Walikota Sachrudin dan Wakil Walikota Maryono Hasan sejak dilantik pada Februari 2025. Memasuki medio 2026, wajah kota berjuluk “Akhlakul Karimah” ini mulai bersalin rupa. Bukan sekadar angka-angka statistik, namun sebuah ikhtiar untuk menghadirkan pemerintah yang lebih “berperasaan” dan responsif terhadap denyut nadi warganya.
Infrastruktur, memperbaiki jalan, menyambung harapan bagi Sachrudin-Maryono, pembangunan bukan hanya soal gedung pencakar langit, melainkan kenyamanan warga saat melintasi gang-gang sempit di depan rumah mereka. Fokus satu tahun pertama ini tertuju pada perbaikan ratusan jalan lingkungan dan normalisasi drainase yang selama ini menjadi momok genangan saat musim hujan.
Target renovasi 1.000 Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) menjadi bukti nyata sisi humanis kepemimpinan ini. Program ini bukan sekadar memperbaiki atap yang bocor, melainkan mengembalikan martabat keluarga agar dapat hidup di hunian yang sehat dan layak.
Ekonomi yang menghidupkan dapur warga. Di tengah tantangan ekonomi global, Kota Tangerang justru menunjukkan taji. Pertumbuhan ekonomi melesat ke angka 5,20% di awal 2026, naik signifikan dari tahun sebelumnya. Dampaknya terasa pada penurunan angka kemiskinan yang kini berada di level 5,19%.
Program seperti “Gampang Sembako” dan “Bang Sama” menjadi oase bagi ibu rumah tangga di tengah fluktuasi harga pangan. Dengan menjaga stabilitas harga bahan pokok, pemerintah memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi kota tidak meninggalkan masyarakat kecil di belakang.
Birokrasi rasa “Pelayanan Cepat” Salah satu gebrakan paling mencolok dalam 100 hari kerja pertama adalah revolusi perizinan. Jika dulu pengurusan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) bisa memakan waktu hingga 45 hari, kini di bawah instruksi Sachrudin, layanan tersebut dipangkas drastis menjadi hanya 10 jam.
“Birokrasi jangan jadi dinding penghalang, tapi harus jadi karpet merah bagi kemajuan warga,” ungkap Sachrudin dalam salah satu arahannya. Semangat ini pula yang mendorong perbaikan cepat 334 segmen jalan berlubang hanya dalam waktu satu bulan pada Februari 2026 kemarin.
Responsivitas 24 Jam pemerintah yang hadir. Modernitas Kota Tangerang kini diimbangi dengan kesigapan aparatur yang diminta siaga 24 jam. Instruksi bagi camat dan lurah untuk turun langsung ke lapangan memastikan bahwa keluhan warga—mulai dari lampu jalan mati hingga tumpukan sampah mendapat penanganan segera.
Nilai-nilai sosial juga tetap dijaga di HUT ke-33 Kota Tangerang, penertiban penyakit masyarakat seperti pemusnahan miras dilakukan sebagai bentuk komitmen menjaga kenyamanan ibadah dan tatanan sosial warga.
Refleksi satu tahun kepemimpinan Sachrudin-Maryono mengajarkan bahwa tata kelola kota yang modern harus berjalan beriringan dengan nilai-nilai kebersamaan. Perjalanan memang masih panjang, namun fondasi yang diletakkan dalam setahun pertama ini memberikan harapan baru: bahwa Kota Tangerang bukan hanya tempat untuk mencari nafkah, tapi juga tempat yang nyaman untuk pulang. (ADV)











