Home / Tak Berkategori

Senin, 14 Maret 2022 - 13:26 WIB

Penghuni Rusunawa Marunda Jakarta Resah Pencemaran Pembakaran Batubara

Jakarta, suararepubliknews.com – Warga Rusun Sederhana Sewa (Rusunawa) Marunda, Jakarta Utara, melakukan unjuk rasa di depan Balai Kota Jakarta meminta pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi DKI menghentikan pencemaran abu barubara yang melanda kawasan permukiman tersebut.

“Kami ada di sini untuk memperjuangkannya,” kata salah satu orator dari Forum Masyarakat Rusunawa Marunda (FMRM) dan sekitarnya saat melakukan unjuk rasa di depan Balai Kota Jakarta, Senin.

Dalam unjuk rasa itu, mereka mengajukan tiga tuntutan, yakni tanggung jawab lingkungan, kesehatan dan sosial.

Kemudian, meminta evaluasi, copot dan memberikan sanksi kepada Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Marunda yang diduga lalai dan terjadi pembiaran terkait pencemaran itu.

Selanjutnya, evaluasi konsensi PT Karya Citra Nusantara (KCN) terkait dugaan pencemaran tersebut.

“Jangan demi menjaga investasi dengan melindungi korporasi tapi memakan korban bangsa sendiri,” demikian keterangan tertulis forum warga tersebut.

Namun, aksi unjuk rasa warga tersebut di Balaikota tidak berlangsung lama. Mereka kemudian melanjutkan aksinya ke Kementerian Perhubungan.

Baca juga: Perusahaan di bawah KCN bahas rencana dirikan klinik di Marunda

Sebelumnya, dalam kesempatan terpisah Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Marunda Kapten Isa Amsyari mengatakan, udara tercemar di kawasan Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, bukan berasal dari pelabuhan setempat.

“Aksi mereka kemarin memang mengeluhkan adanya limbah dan polusi batubara itu. Dan laporan dari warga bahwa yang paling potensi terbesar itu adalah dari cerobong asap pembakaran batubara yang tentu tidak berada dalam pelabuhan,” kata Isa di Jakarta Utara, Rabu (2/3).

Menurut Isa, pabrik pengolahan atau pembakaran batubara tidak mungkin berada di dalam pelabuhan.

Hal itu, kata dia, karena pelabuhan dilarang menjadi tempat industri, hanya boleh menjadi tempat aktivitas bongkar/muat barang dan/atau penumpang serta tempat menaruh barang sementara sebelum pengapalan atau sebelum dibawa truk angkut menuju pabrik pengolahan yang letaknya di luar pelabuhan.

“Tidak ada pabrik (di pelabuhan), yang ada lapangan (tempat bongkar-muat). Ini yang mengidentifikasi atau mengetahui itu adalah warga di sekitar pelabuhan yang memang memperhatikan. Pabrik itu adanya di luar pelabuhan,” kata Isa.

Kendati demikian, Isa berjanji untuk tetap menindaklanjuti hasil pertemuan dengan warga tersebut.

Isa mengatakan, pihaknya telah bersurat kepada Badan Usaha Pelabuhan (BUP) PT Karya Citra Nusantara (KCN) selaku pengelola kawasan untuk memintakan pembaruan dokumen perusahaan yang beroperasi di wilayah mereka per 2022 mulai dari legalitas pendirian, sampai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) usahanya.

Kalau ada perusahaan yang tidak bisa memenuhi dokumen itu, lanjut dia, maka pihaknya akan memberikan sanksi kepada perusahaan tersebut dengan menunda izin operasi mereka di pelabuhan.( idn ).

Tag: Pencemaran, Debu, Batubara, Pelabuhan

Share :

Baca Juga

Maluku

Wakapolda Maluku Ikuti Upacara Pemuliaan Nilai-Nilai Tribrata Polri Jelang HUT ke-79 Bhayangkara
Razia Hari Valentine, Satpol PP Surabaya Jaring Puluhan Pasangan di Luar Nikah

Daerah

Dua Pekerja Sipil Bangunan Meninggal Dunia Ditembak KKB, Satgas Ops Damai Cartenz Sigap Lakukan Pengejaran dan Evakuasi Korban
Ucapan ‘Gerombolan’ TNI oleh Effendi Simbolon, Bukti Krusialnya Diksi Dalam Komunikasi
BPBD Kota Tangerang Mengedukasikan Masyarakat Tentang Isu Bencana Megathrust
Kakorlantas Polri Tinjau Arus Balik Libur Natal di GT Palimanan Tol Cipali

Banten

Pastikan Aman, Lancar dan Terkendali, Kapolres Lebak Cek Pos Pam Stasiun dan Obyek Wisata
Dugaan Mark Up Komimfo Kepri, Direktur Pelayanan KPK Minta Data Pendukung

Contact Us