Astana, suararepubliknews.com – Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping bertemu pada hari Rabu (06/07) di Kazakhstan untuk menghadiri sesi tahunan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO). Pertemuan ini menjadi sorotan internasional karena kedua pemimpin tersebut memperkuat aliansi mereka yang menentang dominasi aliansi Barat.
Kedekatan Rusia dan China dalam Menentang Tatanan Barat
Putin dan Xi terakhir kali bertemu pada bulan Mei di Beijing untuk memperkuat kemitraan mereka dalam menghadapi tatanan demokrasi yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan mempromosikan dunia yang lebih “multipolar”. Dilansir dari media APnews, pertemuan mereka kali ini diadakan di tengah-tengah sesi tahunan SCO yang berlangsung di ibu kota Kazakhstan, Astana.
Organisasi Kerja Sama Shanghai: Aliansi Strategis di Asia Tengah
SCO didirikan pada tahun 2001 oleh China dan Rusia untuk membahas masalah keamanan di Asia Tengah dan wilayah yang lebih luas. Anggota lainnya adalah Iran, India, Pakistan, Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, dan Uzbekistan. Negara-negara pengamat dan mitra dialog termasuk Turki, Arab Saudi, dan Mesir. Tujuan utama organisasi ini adalah memperkuat kerjasama di antara negara-negara anggota dalam menghadapi tantangan keamanan dan ekonomi global.
Pemimpin yang Hadir di KTT SCO
Selain Putin dan Xi, para pemimpin yang hadir termasuk Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev, Presiden Tajikistan Emomali Rakhmon, dan Presiden Kirgistan Sadyr Zhaparov. Presiden Alexander Lukashenko dari Belarus juga hadir karena negaranya telah menjadi anggota tetap SCO. Pelaksana tugas Presiden Iran, Mohammad Mokhbar, juga turut hadir menggantikan Presiden Ebrahim Raisi yang wafat dalam kecelakaan helikopter pada bulan Mei lalu.

Tamu-tamu lain yang hadir termasuk Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres juga hadir dalam kunjungannya ke Asia Tengah untuk memposisikan PBB sebagai organisasi inklusif yang berbicara dengan semua negara besar.
Tujuan Strategis Pertemuan
Pertemuan ini menjadi kesempatan bagi Putin untuk menunjukkan bahwa Rusia tidak terisolasi akibat sanksi negara-negara Barat atas invasi ke Ukraina pada tahun 2022. Dengan dukungan China dan negara-negara anggota SCO lainnya, Rusia berusaha memperkuat posisinya di kancah internasional.

Bagi Putin, pertemuan ini juga tentang menunjukkan bahwa ia tidak sendirian di panggung dunia. Pertemuan dengan Xi Jinping, yang telah dilakukan lebih dari 40 kali, menggarisbawahi dukungan diplomatik Beijing untuk Moskow. Selain itu, pentingnya China sebagai pasar utama untuk minyak dan gas Rusia semakin mempererat hubungan kedua negara.
Kepentingan China dalam SCO
Bagi China, SCO adalah platform untuk memproyeksikan pengaruhnya di seluruh Asia Tengah dan Global South. Xi Jinping telah menyerukan “jembatan komunikasi” antar negara untuk mempromosikan China sebagai alternatif bagi AS dan sekutunya. SCO juga membantu China dalam mengembangkan kerjasama ekonomi dan keamanan dengan negara-negara anggota lainnya.
Fokus Diskusi: Keamanan dan Kerjasama Ekonomi
Melawan terorisme menjadi fokus utama dalam pertemuan ini. Rusia, yang telah mengalami serangan teroris beberapa kali tahun ini, mengharapkan dukungan dari negara-negara anggota SCO untuk memperkuat keamanan regional. Selain itu, pertemuan ini juga menjadi tempat untuk membahas kerjasama ekonomi dan perdagangan di antara negara-negara anggota.
Tantangan dan Ketegangan dalam SCO
Meskipun SCO bukanlah aliansi keamanan atau ekonomi kolektif, organisasi ini memiliki nilai penting dalam menunjukkan solidaritas negara-negara non-Barat. Namun, perbedaan politik di antara anggota, seperti sengketa Kashmir antara India dan Pakistan, menjadi hambatan dalam mencapai kesepakatan bersama.
Ukraina dalam Agenda Pembicaraan
Meskipun Ukraina dan pendukung Barat tidak hadir, perang di Ukraina menjadi topik penting yang mungkin dibahas di sela-sela KTT. Putin berusaha menunjukkan bahwa ada “sekumpulan negara besar” yang “ambivalen” terhadap perang di Ukraina. Pertemuan ini juga menjadi kesempatan bagi Sekretaris Jenderal PBB António Guterres untuk berbicara dengan Putin mengenai dampak perang terhadap koherensi PBB. (Stg)











