“Menoropong Masa Depan Jaminan Hukum atas Keragaman Budaya dan Spiritualitas di Indonesia”
Tulungagung, Suararepubliknews.com – Pegiat dan Pemangku Kebudayaan se-Kabupaten Tulungagung menggelar Jagongan Budaya bertajuk “Menoropong Masa Depan Jaminan Hukum atas Keragaman Budaya dan Spiritualitas di Indonesia” pada Rabu, 04 Oktober 2023. Acara ini dihelat di Pendopo Griyajar Budaya Ngantru, Tulungagung. Melalui acara ini, para pimpinan rumah budaya dan kelompok spiritual di Tulungagung berkomitmen untuk mempromosikan dan merayakan kekayaan budaya, serta mengambil peran besar dalam menyongsong dan menjaga kondusivitas sosial menjelang Pemilihan Umum 2024 di Indonesia.
Acara melibatkan tiga narasumber yang mewakili rumah budaya dan organisasi-organisasi spiritual. Mereka adalah Ki Jliteng Sukono, pimpinan Giryajar Budaya Tulungagung; Ki Surojo, pimpinan rumah budaya Kuda-Bhirawa, dan; Romo Kiai Amu Sugito, Pimpinan Pondok Pesantrean Albadru Alaina, Tulungagung. Selain menghimbau bahwa segenap Masyarakat harus tetap menjaga akar budaya guyub dan damai, para narasumber juga berpendapat bahwa gerakan kebudayaan penting untuk memastikan hadirnya tokoh-tokoh penting dalam bursa kepemimpinan nasional yang memberi kepastian hukum bagi ragam budaya dan spiritualitas yang berkembang di Masyarakat.
Ki Jliteng Sukono, pimpinan Griyajar Budaya Tulungagung, menegaskan tentang perlunya masyarakat mendukung tampilnya tokoh nasional yang memiliki komitmen pada penegakan hukum dan perlindungan kepada kelompok-kelompok spiritual dan kepercayaan untuk berada dalam bursa kepemimpinan nasional. Secara eksplisit Jliteng Sukono menyebut bahwa berdasarkan rekam jejak yang panjang, nama Prof. Mahfud, MD, sangat layak dipertimbangkan untuk meramaikan bursa kepemimpinan nasional karena komitmennya dalam melindungi keragaman budaya dan spiritualitas.
Lebih Jauh Jliteng Sukono menyatakan, “pemimpin nasional harus merupakan tokoh yang memiliki rekam jejak panjang memiliki kepedulian atas kekayaan budaya di Indonesia, dan berkomitmen untuk melindunginya.” Dan dengan melihat rekam jejak yang panjang pula, Sungkono meyakini bahwa sosok Prof. Mahfud, MD layak untuk dipertimbangkan menjadi salah satu kandidat yang akan mengisi posisi Calon Presiden maupun Calon Wakil Presiden di Indonesia di masa depan.
Senada dengan Jliteng Sukono, Ki Surojo—pemimpin rumah budaya Kuda Bhirawa, juga melihat bahwa sosok Prof. Mahfud MD juga memiliki kapasitas dan komitmen besar dalam melindungi keberagaman budaya sekaligus keragaman ekspresi spiritualitas dalam Masyarakat. Ki Surojo secara terang-terangan menyatakan bahwa fiigur Mahfud MD, merupakan putra bangsa terbaik yang telah mengabdikan hampir seumur hidupnya untuk membangun penegakan hukum dan Hak Asasi Manusia di Indonesia. Menurut Surojo lebih jauh, “figur seperti inilah yang dibutuhkan oleh Indonesia di masa depan, dan dengan begitu Prof. Mahfud harus didorong untuk mau dipromosikan menempati bursa Calon Wakil Presiden yang masih terbuka.”
Dengan mengamini pandangan kedua narasumber tersebut, Romo Kiai Amu Sugito lebih menghimbau masyarakat untuk bersikap aktif di dalam menentukan masa depan Indonesia dengan memilih calon pemimpin yang dibutuhkan oleh Indonesia. Intinya, seorang pemimpin harus memiliki visi yang kuat dalam melindungi dan memajukan kekayaan budaya Indonesia, tidak terkecuali kekayaan budaya spiritual.
Melalui Jagongan Budaya tersebut, para tokoh pemangku Budaya se-Tulungagung juga menganggap penting untuk mendorong masyarakat memberi dukungan atas upaya mencari pemimpin terbaik bagi Indonesia di masa depan. Khusus dalam konteks ini, masyarakat perlu didorong untuk lebih cerdas dan mampu berperan besar dan menyeleksi dan mengusulkan figur-figur yang tepat untuk mengisi kepemimpinan nasional yang dianggap mampu menjaga keragaman budaya, nilai-nilai luhur, dan persatuan Indonesia. []










