Home / Maluku

Jumat, 9 Januari 2026 - 05:30 WIB

Hadiri Prosesi Ritual Adat Perdamaian di Desa Ngadi, Ini Pesan Kapolda Maluku

MALUKU, SRN – Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Maluku, Irjen Pol. Prof. Dr. Dadang Hartanto, S.H., S.I.K., M.Si., menghadiri Prosesi Ritual Adat Pemasangan Sasi (Hawear) dan Penancapan Meriam Portugis (Lela) sebagai simbol perdamaian dan pengakhiran permasalahan antar keluarga di Desa Ngadi, Kecamatan Dullah Utara, Kota Tual, Senin (8/1/2026).

Prosesi adat tersebut menandai berakhirnya permasalahan penganiayaan yang menewaskan almarhum Nurdin Bugis, sekaligus menjadi bentuk komitmen bersama antara keluarga korban dan keluarga enam pelaku untuk menghentikan segala bentuk permusuhan dan kekerasan di kemudian hari.

Kehadiran Kapolda Maluku bersama unsur Forkopimda, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat setempat menegaskan dukungan penuh Polri terhadap penyelesaian permasalahan secara damai, bermartabat, dan berkeadilan melalui pendekatan kearifan lokal, tanpa mengesampingkan supremasi hukum.

Prosesi adat dipimpin oleh Raja Dullah, Raja Tual, dan Raja Ohoitahit, diawali dengan pembacaan sumpah adat, pemasangan sasi (hawear) sebagai larangan adat, serta penancapan meriam Portugis (lela) sebagai simbol pengikat perdamaian yang memiliki konsekuensi sosial dan adat yang kuat.

Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Tual menyampaikan bahwa pemerintah daerah berkomitmen menjaga stabilitas keamanan dan mengajak masyarakat menjunjung tinggi nilai-nilai adat serta hukum sebagai landasan hidup bersama.

Sementara itu, Kapolda Maluku menegaskan bahwa perdamaian berbasis adat bukan sekadar simbolik, melainkan fondasi penting bagi keamanan jangka panjang.

“Perdamaian adat memiliki kekuatan moral dan sanksi sosial yang sangat kuat. ,” tegas Kapolda.

Kapolda juga mengingatkan bahwa kamtibmas adalah tanggung jawab kolektif, bukan hanya Polri, melainkan seluruh elemen masyarakat.

Ia menegaskan bahwa konflik tidak pernah melahirkan pemenang sejati dan justru meninggalkan luka sosial yang berkepanjangan.

“Dalam konflik tidak ada yang benar-benar menang. Yang kalah menjadi abu, yang menang pun menjadi arang,” ujarnya.

Baca Juga  Groundbreaking 205 SPPG Tambahan dan Panen Jagung, Kapolda Maluku Pastikan Mendukung Penuh

Kapolda berharap perdamaian di Desa Ngadi dapat menjadi contoh nasional bahwa permasalahan sosial dapat diselesaikan melalui jalur damai, manusiawi, dan berkeadilan.

Kegiatan ditutup dengan doa lintas agama, jabat tangan, dan saling memaafkan antara kedua belah pihak. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan kondusif hingga pukul 11.25 WIT dengan pengamanan terpadu TNI–Polri.

Kehadiran langsung Kapolda Maluku dalam prosesi adat ini menunjukkan pendekatan kepemimpinan Polri yang humanis, responsif, dan kontekstual terhadap budaya lokal. Model penyelesaian permasalahan berbasis adat yang dikawal negara menjadi contoh penting bagi daerah lain dalam menjaga stabilitas sosial tanpa mengabaikan nilai kemanusiaan dan keadilan, ( Dhet ).

Share :

Baca Juga

Maluku

Perkuat Kerjasama Kabid Humas Polda Maluku Silaturahmi Dengan Kepala Stasiun RRI Ambon

Maluku

Rakernis Gabungan Divisi Polri: Integritas dan Kepercayaan Publik Jadi Prioritas

Maluku

Itwasum Polri Evaluasi Penanganan Pengaduan Masyarakat di Polda Maluku

Maluku

Kapolda Silaturahmi dengan Kabinda Maluku, Perkuat Sinergitas Pemeliharaan Kamtibmas dan Polemik Daerah

Maluku

Bhayangkari Berdaya, Berkarya dan Berdampak Jadi Tema HKGB ke-70

Maluku

Ikut Arahan Kapolri, Wakapolda: Polda Maluku Siap Dukung Swasembada Pangan

Maluku

Polres Malra Serahkan Tersangka Kasus Persetubuhan Anak ke JPU

Maluku

Talk Show “Maluku Bicara”, Karo Ops Tegaskan Maluku Kondusif

Contact Us