Home / Ragam

Selasa, 29 Maret 2022 - 06:50 WIB

Dr.Terawan Dipecat dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI)?

Jakarta, Maret 2022, Koran Pemantau Korupsi ( KPK), Dengan dikeluarkannya Dr Terawan dari IDI , maka dengan solidaritas para dokter , mereka keluar semua dari IDI dan mendirikan IDI tandingan dengan nama IDSI ( Ikatan Dokter Seluruh Indonesia). Berarti tamat sudah IDI yg tenyata sebagian besar terdiri para kadrun. Keberadaan IDI sudah saatnya ditinjau lagi.

APAKAH Terawan bukan lagi dokter? Setelah dipecat secara permanen dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI)? Dikutip dari perkataan Dahlan Iskan melalui Yayasan Adharta, mengatakan, Tentu Terawan tetap dokter. Sepanjang ijazah dokternya tidak dicabut –oleh universitas yang memberikannya: Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta. Ia juga tetap dokter sepanjang ilmu kedokterannya tidak dicabut dari otaknya –oleh Tuhannya: Yesus ujar Dahlan Iskan yang pernah memimpin Jawa Pos 1982 ini. Apakah Terawan masih bisa buka praktik sebagai dokter? Tanya dia lagi Sepanjang pemerintah masih mengizinkan, Terawan tetap bisa praktik.jawabnya lagi

Apakah Terawan masih bisa bekerja di rumah sakit –RS Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta?pertanyaan berikutnya,dijawab sendiriSepanjang direktur di RS tersebut masih memercayainya, Terawan tetap bisa bekerja di sana”. Intinya lanjut Dahlan yang pernah menjadi menteri BUMN dimasa pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono  pada 17Oktober 2011 ini : semua terserah pemerintah. Yang mengeluarkan izin itu pemerintah –Kementerian Kesehatan. Bukan IDI. Masalahnya lanjut nya: dengan pangkat yang sudah letnan jenderal TNI-AD, apakah Terawan masih memerlukan untuk berpraktik sebagai mata pencaharian. Jabatan di dunia kedokteran juga sudah mencapai puncak : menteri kesehatan. Sebelum itu pun sudah direktur RSPAD. Sebagai ilmuwan, Terawan juga sudah mencapai puncaknya: bergelar doktor terangnya lagi. Inilah dokter dengan capaian tertinggi yang pernah dipecat secara permanen dari IDI.ujar Dahlan Iskan. IDI adalah organisasi. Semua anggotanya harus dokter. Sebagai organisasi biasa, IDI punya aturan dasar (AD/ART) yang harus ditaati. Sebagai organisasi profesi, IDI punya kode etik yang juga harus diikuti.

Baca Juga  VAKSIN KE 4 PERLUKAH ?

Rasanya Terawan dianggap lebih melanggar kode etik daripada melanggar AD/ART terangnya. Itu bisa dilihat dari proses pemecatannya: lewat sidang-sidang dewan etika dokter. Yakni, satu lembaga yang mengawasi apakah seorang dokter melanggar etika kedokteran atau tidak. Apakah karena Terawan gigih ”melahirkan” Vaksin Nusantara di awal pandemi, lalu dianggap melanggar kode etik IDI?

Rasanya bukan itu. Vaksin Nusantara(VakNus) itu murni soal izin dari BPOM. Izin tersebut tidak keluar karena VakNus tidak memenuhi kriteria definisi vaksin. Saya pun kata Dahlan yang pernah digadang-gadang  menjadi calon  presiden lewat convensi Capres Demokrattahun 2014 Dia pernah menulis: mengapa Terawan ngotot menyebutnya vaksin. Mengapa, misalnya, tidak menyebutnya terapi dendritik advisnya. Toh, para dokter yang mempraktikkan stem cell atau PRP atau juga cell cure tidak ada yang dipecat dari IDI ujar dia.

Rasanya pemecatan ini masih terkait dengan cuci otak kenang Dahlan . Yang dikembangkannya jauh sebelum VakNus. Ia pernah dipecat sementara dari IDI di soal cuci otak itu. Terawan dianggap tidak mau mempertanggungjawabkannya secara ilmu kedokteran di depan IDI. Waktu itu ributnya juga luar biasa. Tidak kalah dengan VakNus lanjutnya. Medsos belum seeksis sekarang. Keriuhan waktu itu hanya terlihat di media mainstream. Saking ributnya, saya lanjutnya sampai ingin mencoba sendiri. Saya ke RSPAD. Saya minta dilakukan ”cuci otak”. Masih dr Terawan sendiri yang mengerjakan. Belum seperti sekarang –sudah banyak dokter binaan Terawan yang bisa melakukannya. Lalu, saya menulis pengalaman saya menjalani praktik cuci otak itu (lihat Disway, 19/3/2021: Empat Misi Terawan). Sampai dua atau tiga seri. Istri saya minta terapi itu juga. Syaratnya: saya harus bersamanya. Maka, dua kali saya menjalani cuci otak. Begitu banyak tokoh nasional yang juga menjalaninya –sebelum dan sesudah saya. Lebih banyak lagi yang bukan tokoh: sudah lebih dari 40.000 orang.kenangnya.

Baca Juga  Kecerdasan Sosial Wajib Bagi Pemimpin Kampus, Sebuah Refleksi Menjelang Pemilihan Rektor UKSW

Terawan dianggap tidak pernah mau mempertanggungjawabkan itu. Sebenarnya ia bisa minta: agar pemecatan sementara itu ditinjau. Lewat muktamar IDI berikutnya. Terawan tidak mau memanfaatkan proses itu. Sampailah ada Muktamar IDI 2022. Di Aceh. Pekan lalu. Status pemecatan sementara itu tidak boleh terus menggantung: Terawan dipecat secara permanen. Di masa lalu Terawan mengatakan: pernah memberikan penjelasan yang diminta. IDI menganggap belum cukup. Terawan menganggap cukup. IDI terus mempersoalkan. Terawan memilih diam seribu bahasa –sambil terus mempraktikkan terapi cuci otak. Belakangan Terawan menulis disertasi: untuk meraih gelar doktor. Di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Disertasinya soal cuci otak itu. Terawan pernah mengatakan kepada saya(Dahlan Iskan-red): itulah pertanggungjawaban tertinggi secara ilmiah soal cuci otak.

Disertasi itu diterima tim penguji di Unhas. Terawan berhak atas gelar doktor cuci otak. Terawan tidak melayani permintaan IDI. Ia abaikan begitu saja.

Apakah tanpa menjadi anggota IDI Terawan masih dokter? Anda sudah tahu.

Masalahnya, tidak ada organisasi dokter di luar IDI. Berarti, Terawan adalah dokter independen.Terawan tidak melayani permintaan IDI. Ia abaikan begitu saja.

Di antara organisasi-organisasi profesi (dokter, wartawan, pengacara, dan yang sejenis) terang Dahlan, IDI memang paling solid. Semua organisasi profesi sudah tidak tunggal lagi. Organisasi wartawan tidak lagi hanya PWI. Organisasi pengacara lebih banyak lagi. Hanya para dokter yang tidak mau membentuk organisasi di luar IDI. Mungkin itu karena ada legalitas yang kuat untuk IDI: izin praktik dokter tidak bisa diterbitkan kalau tidak ada rekomendasi IDI. Di situ tertulis eksplisit: IDI. Bukan organisasi dokter. Saya tidak tahu apakah sudah ada yang mempersoalkan ”monopoli” IDI itu secara hukum. Tapi, harus diakui: IDI adalah organisasi profesi yang paling ketat mengontrol anggotanya. Yang terketat. Organisasi wartawan begitu longgar. Pun organisasi advokat.Menuruf informasi tadi sore dalam jumpa Pers ternyata Pengurus Besar IDI melalui ketuanya Prof. Ilham Oetomo Maris, tunda  Pemecatan dr.terawan.  ( Ring-o)

Baca Juga  HAJATAN WADUK SETU DALAM RANGKA HUT DKI JAKARTA YANG KE 495
Stiker tanpa label

Share :

Baca Juga

Ragam

Sukarno, Ende, dan Katolik

Ragam

Sabam Sirait Mengajarkan Berpolitik dengan Suara Hati

Ragam

Ir. Adharta Ongkosaputra, SE : Arti dan Makna Natal

Ragam

 PT Jasa Marga Tbk Akan Naikkan Tarif Tol Dalam Kota Jakarta Sebesar Rp 500.

Ragam

KISAH NYATA  SEORANG PENJUAL ROTI, DIBANTU SEORANG GURU DI REPUBLIK SUDAN.

Banten

Hasil Rapat Pleno PWI KotaTangerang, R. Herwanto Terpilih Sebagai Plt Ketua PWI Kota Tangerang

Ragam

BELAJAR BERSAMA DENGAN PLANIT YANG HIDUP

Ragam

Mengapa Hari Lingkungan Hidup Sedunia Diperingati Tanggal 5 Juni?

Contact Us