Home / Tak Berkategori

Rabu, 31 Juli 2024 - 10:09 WIB

Gelombang Kekerasan Geng Guncang Södertälje, Tantangan Berat Bagi Pemerintah Swedia

Prime Minister Ulf Kristersson and his right-wing allies edged an election two years ago promising to end a decade of spiraling clashes between drug runners. | Claudio Bresciani/TT News Agency/AFP via Getty Images

Prime Minister Ulf Kristersson and his right-wing allies edged an election two years ago promising to end a decade of spiraling clashes between drug runners. | Claudio Bresciani/TT News Agency/AFP via Getty Images

Swedia, suararepubliknews.com – Pada tanggal 22 Juli, sebuah insiden mengejutkan terjadi di kota Södertälje, Swedia. Seorang pria berpakaian serba hitam melemparkan granat tangan ke sebuah toko di pinggiran kota Geneta yang terkenal dengan tingkat kriminalitasnya. Beberapa orang terluka dalam serangan tersebut, termasuk seorang wanita berusia 50-an tahun yang harus dilarikan ke rumah sakit.

Hanya sehari kemudian, seorang pria ditembak dan terluka di jalan yang tak jauh dari lokasi serangan granat. Rangkaian kekerasan ini menunjukkan peningkatan aksi kriminalitas geng di Swedia, menimbulkan tantangan serius bagi pemerintah.

Tantangan Bagi Pemerintah

Perdana Menteri Ulf Kristersson dan sekutu-sekutu sayap kanannya menang tipis dalam pemilihan umum dua tahun lalu dengan janji untuk mengakhiri satu dekade bentrokan antara para pengedar narkoba. Namun, statistik kejahatan tetap menjadi berita yang mengerikan di negara yang dikenal dengan citra internasionalnya sebagai negara yang damai dan sukses. Sejauh ini, pada tahun 2024, telah terjadi 148 insiden penembakan yang menewaskan 20 orang dan melukai 26 lainnya.

“Hal-hal seperti ini tidak bisa terus berlanjut,” kata Tony Aoun, seorang siswa berusia 17 tahun yang sedang berbelanja di Geneta. “Ini selalu menjadi komunitas yang kuat, tapi kekerasan ini harus dihentikan.”

Zona Keamanan: Solusi atau Masalah?

Sebagai bagian dari upaya untuk mengatasi kekerasan geng, pemerintah Kristersson telah memperkenalkan kebijakan zona keamanan. Undang-undang terbaru memungkinkan polisi untuk menetapkan area tertentu sebagai zona keamanan, di mana mereka dapat menghentikan dan menggeledah setiap warga tanpa perlu mencurigai mereka melakukan kejahatan.

Zona keamanan pertama di Swedia didirikan di pusat kota Norrköping setelah terjadi dua serangan geng pada bulan Juni. Zona keamanan kedua didirikan di Geneta setelah pembunuhan bergaya eksekusi terjadi di sebuah tangga apartemen di sana pada awal Juli.

Namun, efektivitas zona keamanan ini masih diperdebatkan. Selama dua minggu penerapan zona keamanan di Geneta, toko-toko tampak sepi dengan kehadiran polisi yang terlihat dan tanda-tanda drone pengintai. Beberapa warga merasa kebijakan stop-and-search mengganggu dan khawatir akan merusak hubungan antara pihak berwenang dan masyarakat.

Kekerasan Kembali Setelah Zona Keamanan

Kekhawatiran warga terbukti beralasan. Hanya dua hari setelah zona keamanan di Geneta berakhir, serangan granat terhadap toko terjadi, diduga sebagai bagian dari konflik antara geng-geng lokal. Dua remaja ditangkap sehubungan dengan ledakan tersebut. Keesokan harinya, seorang pemuda ditembak di jalan terdekat, dan dua remaja lainnya ditangkap.

Walikota Södertälje, Boel Godner, menyatakan keprihatinannya dalam berita malam nasional. “Ini adalah situasi yang serius,” katanya. “Orang-orang marah karena kota mereka dikaitkan dengan para penjahat ini.”

Tantangan Menuju Pemilihan Umum 2026

Para ahli mengatakan bahwa pemerintah harus menunjukkan kemajuan sebelum pemilihan umum berikutnya pada tahun 2026. Jajak pendapat saat ini menunjukkan bahwa oposisi yang dipimpin oleh Partai Sosial Demokrat unggul atas pemerintah dengan selisih sekitar 7 poin persentase.

Walikota Godner menyerukan koordinasi antar lembaga nasional dan internasional untuk menargetkan para pemimpin geng dan aset-aset mereka. “Ketika kejahatan bersifat nasional atau bahkan internasional, maka respon terhadapnya juga harus demikian,” katanya.

Tony Aoun, mahasiswa di Geneta, menekankan bahwa inisiatif seperti zona keamanan harus menjadi bagian dari tindakan keras yang lebih besar dan berkelanjutan. “Ini sudah bagus, tapi tidak cukup,” katanya. “Para penjahat hanya membuang kotoran mereka ke jalan-jalan terdekat dan kembali lagi ketika polisi pergi.” (Stg)

Sumber: Politico.ue “Warring drug gangs turn up the heat on Sweden’s government”

Share :

Baca Juga

Jembatan Tanpa Izin di Sindang Panon Tuai Sorotan Media dan Warga

Daerah

Bakamla RI Tangkap Terduga Perompak Batu Bara
Prediksi Laga Liga 1: PSBS Biak vs Malut United, Siapa Lebih Tangguh?
Fraksi-Fraksi DPRD Humbahas Sampaikan Pandangan Umum Terhadap Nota Pengantar Bupati atas RAPBD T.A. 2023
19 Jam Personel Polres Buru Kawal Distribusi Logistik Pemilu, Masuk Hutan Terjang Dua Sungai

Banten

Jawara Banten Bersatu DPC Malingping Gelar Ngopi Bareng untuk Mempererat Talisilaturahmi dan Persiapan Acara Penting

Maluku

Atlet Polri Harumkan Merah Putih di SEA Games 2025, Kapolri Anugerahkan KPLB kepada Bripda Arni Silva Pattipeiluhu
Jelang Lebaran Kades Tunggulsari Bagikan 2000 Parcel Ke Warganya

Contact Us