Lebak, Suararepubliknews – Masyarakat adat Kasepuhan Cisitu, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten, menggelar acara panen padi sawah secara tradisional pada Selasa dan Rabu (8-9 April 2025). Panen raya padi ini dilakukan dengan metode yang telah diwariskan turun-temurun, yaitu dengan cara dietem atau memanen padi menggunakan alat tradisional bernama ani-ani.

Tradisi “Dietem” dan Proses Panen Penuh Makna
Bagi masyarakat Kasepuhan Cisitu, panen padi dengan cara dietem atau menggunakan ani-ani bukan hanya sekadar kegiatan bertani. Ini adalah bagian dari tradisi dan budaya yang telah dilaksanakan sejak ratusan tahun lalu, tepatnya sejak tahun 1685.
Proses panen dilakukan secara serentak di pesawahan yang luas, sekitar 2.500 hektar, milik masyarakat adat. Setelah padi dipetik, padi akan diikat menggunakan tali yang disebut pocongan, lalu dibawa ke tempat penjemuran yang disebut Lantaian. Padi yang telah dijemur akan disimpan dalam leuit (lumbung padi) setelah proses pengeringan selama sekitar 15 hari.
Kegiatan Panen Raya Padi
Kegiatan panen raya padi ini dihadiri oleh beberapa pejabat dan tokoh masyarakat, antara lain:
– Letkol Inf Herbert Rony Parulian Sinaga (Dandim 0603/Lebak)
– Rahmat, STTP, (tautan tidak tersedia) (Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak)
– Imam Rismahayadin (Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak)
– Abah Yoyo Yohenda (Pemangku Adat Kasepuhan Cisitu)
– H. Sukanta (Kesatuan Adat Banten Kidul/SABAKI)
– Kompol Asep Renggana, S.H. (Danyon Brimob Batalyon C Pelopor)
– Kolonel (Purn) Warnoto (Wakil Pimpinan Cabang Bulog Kabupaten Lebak)
– Khaerudin (Camat Cibeber)
– Akp Heri S (Kapolsek Cibeber)
– Kapten Arm Nasori (Danramil 0315/Bayah)
– Koptu Hadi (Babinsa Koramil 0315/Bayah)
– Nurjaya (Bhabinkamtibmas Polsek Cibeber)
– Aganto Seno (Kasi 1 Taman Nasional Wil. Lebak)
– Iwan Sutikno SKM., MA (Kadis LH)
– Imam Rishamayadin SHut., MSI (Kadis Budpar)
Dandim 0603 Lebak: Panen Padi ini Sangat Menarik
Letkol Inf Herbert Rony Parulian Sinaga menyampaikan bahwa panen padi ini sangat menarik, karena dilaksanakan dengan cara yang masih sangat tradisional. Ia berharap kegiatan ini dapat terus dilestarikan sebagai warisan budaya dan mendukung program ketahanan pangan nasional.
“Dengan dimulainya panen padi ini, kami berharap kebutuhan pangan masyarakat tetap terjaga, dan kesejahteraan akan semakin meningkat,” ujarnya.
Pemangku Adat Kasepuhan Cisitu: Tradisi Dietem Tetap Dilestarikan
Abah Yoyo Yohenda menjelaskan bahwa kegiatan panen padi ini tidak hanya untuk merayakan hasil bumi, tetapi juga sebagai bentuk rasa syukur atas berkah yang diberikan oleh Tuhan.
“Memetik padi menggunakan ani-ani adalah tradisi yang sudah ada sejak abad ke-17, dan hingga kini tetap dilestarikan oleh masyarakat Cisitu sebagai bagian dari identitas budaya yang akan terus dijunjung tinggi,” kata Abah Yoyo.
Pembangunan Irigasi untuk Mendukung Ketahanan Pangan
Abah Yoyo berharap Pemerintah Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten dapat membantu pembangunan irigasi yang memadai, karena wilayah Cisitu memiliki potensi sumber air yang melimpah.
“Ada tiga irigasi yang mohon dibangun, yaitu irigasi Lebak Randu yang bisa mengairi pesawahan seluas 400 hektar, irigasi Pasir Katimus yang bisa mengairi sawah seluas 450 hektar, dan irigasi Pematang Kolecer dengan luas areal sawah 700 hektar,” kata Abah Yoyo.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak: Dukungan untuk Ketahanan Pangan
Rahmat, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, sangat mengapresiasi semangat petani di wilayah adat Kasepuhan Cisitu. Penanaman padi di Cisitu merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan memajukan swasembada pangan.
“Kami mendukung inisiatif masyarakat adat Kasepuhan Cisitu dalam melestarikan tradisi pertanian dan memajukan swasembada pangan. Kami juga akan berupaya untuk membantu pembangunan infrastruktur irigasi agar hasil pertanian semakin optimal,” kata Rahmat.(Iwan H)










