Bandung, Minggu 04 Agustus 2024 – Hari kedua kegiatan Rekoleksi DPP, Ketua Wilayah, dan Ketua Lingkungan Gereja Katolik Kristus Raja Karawang berlangsung di gedung Bumi Silih Asih (BSA), Bandung, pada pukul 08.00 WIB. Para peserta mengikuti dua sesi materi yang mendalam dan penuh inspirasi, yang disampaikan oleh narasumber berkompeten di bidangnya.
Membangun Jemaat yang Hidup: Sesi Pertama oleh Bapak Matias Endar Suhendar
Sesi pertama dipandu oleh Bapak Matias Endar Suhendar, Sekretaris Dewan Karya Pastoral Keuskupan Bandung.


Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa pengurus gereja memiliki peran penting dalam menciptakan jemaat yang hidup dan berdaya guna.
1. Membangun Iklim Positif
Menurut Bapak Matias Endar Suhendar yang akrab disapa Pak Endar, iklim positif adalah salah satu kunci keberhasilan gereja. “Persekutuan adalah kekhasan di gereja, satu komunitas satu tubuh.

Iklim yang positif tercipta ketika jemaat saling menghargai dan menumbuhkembangkan satu sama lain,” jelasnya. Iklim positif ini menjadi landasan bagi jemaat untuk merasa aman, bernilai, dipahami, dihargai, dan dicintai.
2. Menegaskan Identitas Jati Diri
Identitas komunitas harus jelas dan tegas. “Pengurus gereja harus tahu siapa Gereja Katolik ini dan untuk apa Gereja Katolik ini,” kata Pak Endar. Identitas ini menjawab dua pertanyaan fundamental: siapa saya dan untuk apa saya?, Identitas yang jelas membantu jemaat memahami peran dan tujuan mereka dalam melanjutkan karya Yesus Kristus.
3. Menetapkan Tujuan dan Tugas
Setiap institusi atau lembaga harus memiliki tujuan dan tugas yang jelas. Pak Endar menekankan bahwa tanpa tujuan dan tugas yang jelas, gereja tidak akan bisa berjalan dengan baik.

“Pengurus gereja harus memiliki tujuan dan tugas yang jelas agar setiap anggota jemaat bisa bergerak ke arah yang sama,” tambahnya.
4. Membangun Struktur yang Efektif
Struktur dalam gereja bukan sekadar penempatan hierarki atas dan bawah, tetapi tentang membangun relasi yang tertib dan teratur. “Struktur yang baik membantu membangun jejaring relasi yang kuat di antara jemaat,” kata Pak Endar.
Struktur ini penting untuk memastikan bahwa setiap anggota jemaat memiliki peran yang jelas dan terintegrasi.
5. Kepemimpinan Partisipatif
Kepemimpinan yang paling efektif adalah kepemimpinan partisipatif yang melibatkan seluruh jemaat. “Partisipasi dan keterlibatan umat adalah tolak ukur keberhasilan sebuah paroki,” ujar Pak Endar. Kekuatan gereja Katolik terletak pada partisipasi dan keterlibatan umat dalam setiap aspek kegiatan gereja.
Menumbuhkan Sikap Kebersamaan: Sesi Kedua oleh Ibu Lidwina Wahyu Widayati, S.Psi.
Sesi kedua dibawakan oleh Ibu Lidwina Wahyu Widayati, S.Psi., seorang ahli psikologi.

Beliau mengulas tentang pentingnya sikap kebersamaan dalam komunitas gereja dan bagaimana membangun kebersamaan yang sejati.
Kebersamaan Sejati atau Ideal
Ibu Lidwina menjelaskan berbagai jenis kebersamaan, mulai dari kebersamaan naik bus kota, kebersamaan pabrik, kebersamaan panti jompo, hingga kebersamaan pasar. Namun, kebersamaan sejati atau ideal adalah kebersamaan yang selaras dengan kehendak Tuhan.

“Kesadaran bahwa saya adalah warga gereja dan bagian dari komunitas yang lebih hidup sangat penting,” tegasnya. Kebersamaan sejati membangun relasi dengan Tuhan dan sesama, serta memiliki tujuan bersama yang jelas.
Pembentukan Tim yang Solid
Dalam pembentukan tim, ada empat posisi yang harus dilalui: tidak menentu, jelas, solid, dan peran dalam tim. “Peran-peran ini mencakup visionary, achiever, facilitator, dan analyzer,” jelas Ibu Lidwina.

Tim yang solid adalah tim yang setiap anggotanya memahami peran dan tanggung jawabnya, serta bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
Menciptakan Kebersamaan dalam Pelayanan
Katarina, salah satu peserta rekoleksi, memberikan tanggapannya setelah mengikuti sesi ini.

“Kegiatan rekoleksi ini sangat menarik, terutama buat kita yang tadinya setengah hati dalam pelayanan menjadi tercerahkan dan ingin melakukan pelayanan lebih full,” kata Katarina.
Penutupan Rekoleksi dengan Perayaan Misa
Acara rekoleksi ditutup dengan perayaan misa yang dipimpin oleh Pastor Pandoyo. Dalam homilinya, Pastor Pandoyo mengingatkan jemaat bahwa pelayanan harus didasarkan pada Yesus Kristus. “Apa yang kita lakukan bukan semata-mata untuk mencari popularitas dan keberhasilan kita, tetapi hanya untuk memuliakan nama Tuhan,” ujarnya. Pastor Pandoyo mengajak jemaat untuk saling mendoakan dan menguatkan satu sama lain sebagai tangan-tangan Allah.

Dengan berakhirnya rekoleksi ini, diharapkan seluruh pengurus gereja dapat menjalankan tugas dan pelayanannya dengan lebih baik, selalu berlandaskan iman dan bimbingan Roh Kudus. (Stg)










