AS, suararepubliknews.com – Boeing mengumumkan akan mengurangi jumlah karyawannya sebesar 10 persen, yang setara dengan sekitar 17.000 orang, akibat meningkatnya kerugian perusahaan serta pemogokan yang telah mengganggu operasi pabrik pesawatnya selama lima minggu terakhir. Keputusan ini muncul di tengah tekanan besar bagi raksasa industri penerbangan tersebut, yang juga memutuskan untuk menunda peluncuran pesawat berbadan lebar 777X hingga 2026, seperti yang dilaporkan media CNBC pada Sabtu (12/10).
Keterlambatan peluncuran 777X, yang telah mengalami penundaan selama enam tahun dari jadwal semula, menjadi salah satu isu terbesar bagi Boeing. Sebelumnya, pada bulan Agustus, uji terbang pesawat tersebut dihentikan setelah ditemukan kerusakan struktural. Situasi ini semakin memperburuk krisis yang dihadapi perusahaan, yang juga mengalami berbagai masalah keamanan dan kualitas selama bertahun-tahun.
Penundaan dan Pemogokan: Tantangan Besar bagi Boeing
CEO Boeing, Kelly Ortberg, menyatakan bahwa perusahaan akan menghentikan produksi pesawat kargo komersial 767 pada tahun 2027 setelah menyelesaikan pesanan yang ada. Ortberg menegaskan bahwa Boeing harus membuat keputusan sulit untuk memulihkan kondisi perusahaan di tengah tantangan operasional dan finansial yang semakin besar.
“Kami berada dalam posisi yang sulit dan harus menghadapi tantangan ini bersama-sama,” kata Ortberg.
Selain itu, Boeing juga sedang menghadapi pemogokan besar-besaran yang dilakukan oleh lebih dari 30.000 masinis. Pemogokan ini, yang dimulai pada 13 September setelah serikat pekerja menolak kesepakatan sementara, telah menyebabkan kerugian besar bagi perusahaan. S&P Global Ratings melaporkan bahwa Boeing kehilangan lebih dari USD 1 miliar (sekitar Rp 15,56 triliun) setiap bulan akibat pemogokan tersebut.
Kerugian Besar dan Risiko Investasi
Boeing tercatat memiliki utang sekitar USD 60 miliar, yang setara dengan Rp 933,92 triliun, dan mencatatkan arus kas operasional lebih dari USD 7 miliar pada paruh pertama tahun 2024. Para analis memperkirakan Boeing perlu mengumpulkan dana antara USD 10 miliar hingga USD 15 miliar untuk menjaga peringkat kreditnya, yang saat ini berada satu tingkat di atas peringkat junk.
Pemotongan tenaga kerja dan pengurangan biaya merupakan langkah signifikan yang diambil Ortberg, yang baru menjabat selama dua bulan sebagai CEO, untuk memulihkan stabilitas Boeing. Tantangan tambahan lainnya adalah ketegangan antara Boeing dan Asosiasi Pekerja Masinis dan Dirgantara Internasional, yang menolak kesepakatan kontrak baru dari perusahaan.
Isu Kualitas dan Keamanan: Kegagalan Berulang di Boeing
Selain masalah finansial dan tenaga kerja, Boeing juga menghadapi kritik tajam atas kualitas dan keselamatan pesawatnya. Pada awal tahun 2024, sebuah pintu pesawat 737 MAX yang dioperasikan oleh Alaska Airlines terlepas beberapa menit setelah lepas landas, memicu penyelidikan federal baru terkait keselamatan pesawat Boeing. Temuan awal menunjukkan bahwa pesawat tersebut meninggalkan pabrik tanpa empat baut penting yang diperlukan untuk menjaga pintu tetap terpasang.
Masalah ini menambah deretan krisis yang sudah dihadapi Boeing, termasuk dua kecelakaan fatal pesawat 737 MAX pada tahun 2018 dan 2019 yang menyebabkan penghentian operasional jet tersebut selama 20 bulan di seluruh dunia.
Upaya Pemulihan dan Tantangan Masa Depan
Pemutusan hubungan kerja yang direncanakan Ortberg diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan. Ini terjadi saat Boeing dan ratusan pemasoknya masih berjuang untuk pulih dari dampak pandemi Covid-19 yang menyebabkan penurunan permintaan pesawat secara drastis.
Michael Ashley Schulman, partner di Running Point Capital Advisors, menyatakan bahwa pengurangan tenaga kerja dan keterlambatan pengiriman pesawat bukanlah hal yang mengejutkan mengingat masalah manajemen yang sudah lama dihadapi Boeing. “Peringkat kredit dan nilai saham telah terancam selama hampir satu dekade akibat manajemen yang buruk dan sikap keras kepala yang terlihat dalam pemogokan,” ujar Schulman.
Di tengah berbagai tantangan ini, Boeing berupaya keras untuk kembali ke jalur pemulihan dan memastikan bahwa mereka tetap kompetitif di pasar penerbangan global.
Editor: Stg
Copyright © suararepubliknews 2024











