Dalam Survei Terbaru, Dedi Mulyadi Mendapat Dukungan Dominan di Pedesaan dan Perkotaan Jawa Barat, Faktor Keterlibatan Langsung dengan Rakyat Jadi Alasan Utama
Bandung, suararepubliknews.com – Peneliti utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, dalam rilis temuan survei Pilgub Jawa Barat pada Kamis (12/9/2024) menyatakan bahwa Dedi Mulyadi unggul secara signifikan sebagai calon gubernur yang paling banyak disebut oleh responden dengan persentase 40,7 persen dalam simulasi Top Of Mind. Lebih jauh, dalam simulasi semi terbuka dengan delapan nama calon, Dedi tetap memimpin dengan dukungan sebesar 74 persen.
Keunggulan Dedi Mulyadi juga terlihat dalam simulasi empat nama calon gubernur, di mana ia mengantongi 77,3 persen suara. Saingan terdekatnya, Ahmad Syaikhu, hanya memperoleh 10,8 persen, sementara calon lainnya seperti Acep Adang Ruhiat dan Jeje Wiradinata masing-masing hanya mendapatkan sekitar 2 persen. Survei ini dilakukan pada 2-8 September 2024, melibatkan 1.200 responden di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat dengan margin of error 2,9 persen.
Faktor Perhatian pada Rakyat Jadi Kunci Kemenangan Dedi
Salah satu alasan utama responden memilih Dedi Mulyadi adalah perhatian besar yang ia tunjukkan kepada rakyat, dengan 42,6 persen responden menjadikan faktor ini sebagai alasan utama pilihan mereka. Popularitas Dedi yang tinggi (93,8 persen) serta tingkat kedisukaan publik yang mencapai 92,2 persen menjadi indikasi kuat bahwa keterlibatan langsungnya dengan masyarakat, terutama di wilayah pedesaan, menjadi kunci utama keunggulannya.
Burhanuddin menjelaskan bahwa mayoritas pemilih yang terkesan dengan perhatian Dedi pada rakyat cenderung memilihnya. “Kekuatan Dedi Mulyadi terletak pada intensitasnya berkeliling ke seluruh wilayah Jawa Barat,” ujarnya.
Dukungan Mayoritas dari Segmen Sosio-Demografi Jawa Barat
Peneliti Indikator Politik Indonesia lainnya, Hendro Prasetyo, mengungkapkan bahwa pasangan Dedi Mulyadi dan Erwan Setiawan mendapat dukungan mayoritas di berbagai segmen sosio-demografi. Pasangan ini didukung oleh 81,2 persen pemilih di pedesaan dan 75,9 persen di perkotaan. Berdasarkan tingkat pendidikan, dukungan terbesar berasal dari pemilih berpendidikan rendah, dengan 82,1 persen dari lulusan SLTP dan 79,9 persen dari lulusan SD. Di kalangan pemilih berpendidikan lebih tinggi, seperti lulusan perguruan tinggi, dukungan menurun menjadi 64,8 persen.
Pengaruh Dukungan Partai Politik dan Koalisi Gemuk
Pengamat politik dan Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto, menjelaskan bahwa keunggulan Dedi Mulyadi dan Erwan Setiawan tidak terlepas dari dukungan solid partai-partai politik yang mencalonkan mereka. Koalisi gemuk yang terdiri dari 13 partai besar, termasuk Partai Gerindra, Golkar, dan Demokrat, memberikan kekuatan elektoral signifikan. Gun Gun menyoroti bahwa dukungan pemilih Prabowo Subianto di Jawa Barat, salah satu basis suara terbesar Gerindra, juga menjadi aset bagi pasangan ini.
“Pemilih Prabowo secara signifikan akan menyumbangkan suara bagi Dedi Mulyadi dan Erwan Setiawan, sehingga ini menjadi keuntungan politik yang jelas,” ujar Gun Gun.
Pentingnya Strategi Pemasaran Politik dan Komunikasi Equalitarian
Gun Gun Heryanto menambahkan bahwa strategi pemasaran politik yang efektif di media mainstream dan media sosial serta komunikasi politik yang menyentuh masyarakat secara langsung akan sangat menentukan naik turunnya dukungan bagi para calon. Ia menegaskan bahwa Jawa Barat, meskipun dekat dengan ibu kota, memiliki banyak wilayah pedesaan yang terpencil, sehingga gaya komunikasi yang inklusif dan merangkul semua lapisan masyarakat menjadi kunci sukses.
Ia juga mengingatkan bahwa tim pemenangan di desa-desa perlu fokus pada narasi-narasi yang mengangkat isu-isu sederhana namun relevan bagi masyarakat pedesaan, seperti distribusi pupuk dan beras, untuk mengatasi problem-problem lokal.
Masih Ada Potensi Pergeseran Dukungan
Meskipun Dedi Mulyadi dan Erwan Setiawan saat ini berada di posisi teratas, survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan bahwa hampir 70 persen pemilih di Jawa Barat belum menentukan pilihan final mereka dan akan memutuskan dukungan mereka selama masa kampanye hingga hari pemilihan. Ini berarti, perubahan dukungan masih sangat mungkin terjadi, tergantung pada seberapa efektif pasangan calon dan tim pemenangannya dalam menjangkau pemilih di sisa waktu sebelum Pilgub.
Dengan semakin mendekatnya Pilgub Jawa Barat 2024, persaingan politik akan semakin ketat, dan langkah-langkah strategis dari masing-masing pasangan calon akan menjadi penentu utama dalam perolehan suara. **
,











