MALUKU, SRN – Polsek Kepala Madan, Polres Buru Selatan, melaksanakan kegiatan penanaman jagung pipil hibrida seluas 2 hektare di lahan Gunung Faja Lale, Desa Fogi, Kecamatan Kepala Madan, Sabtu (14/2/2026). Kegiatan ini dipimpin langsung Kapolsek Kepala Madan IPDA La Ali sebagai bentuk dukungan terhadap program ketahanan pangan pemerintah.

Penanaman dilakukan bersama kelompok tani dan masyarakat Desa Fogi dengan total bibit jagung hibrida sebanyak 30 kilogram. Lahan yang digunakan berada pada koordinat 3°21’03.7″S dan 126°02’19.6″E.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Bhabinkamtibmas Desa Fogi Brigpol M. Risang Pahlawan, Bripda M. Arif Ramli, Bripda Faisal Anugrah, perwakilan Pemerintah Desa Fogi, serta anggota kelompok tani yang terdiri dari Husen Soel, Rajab Soel, Ano Boeng, dan Arman Boeng.
Kapolsek Kepala Madan IPDA La Ali mengatakan keterlibatan Polri dalam kegiatan pertanian merupakan bagian dari implementasi Polri Presisi yang humanis serta dukungan terhadap program strategis nasional di bidang pangan.
“Polri tidak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga hadir untuk membantu masyarakat dalam memperkuat ketahanan pangan. Ini adalah bentuk sinergi nyata antara Polri dan petani demi mewujudkan swasembada pangan,” ujar IPDA La Ali.
Ia menegaskan, peningkatan produksi pangan lokal menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
“Kami berharap melalui kerja sama ini, produksi jagung di Desa Fogi meningkat, pendapatan petani bertambah, dan kebutuhan pangan masyarakat tetap terjaga dengan harga yang terjangkau,” tambahnya.
Kegiatan diawali dengan persiapan lahan dan penanaman bibit jagung oleh personel Polsek bersama kelompok tani. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan lancar.
Langkah Polsek Kepala Madan tersebut menjadi bagian dari kontribusi Polri dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pemberdayaan potensi pertanian lokal di wilayah hukum Polres Buru Selatan.
Kegiatan penanaman jagung yang dilakukan Polsek Kepala Madan menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berbicara soal ketersediaan bahan pokok, tetapi juga menyangkut masa depan ekonomi rakyat.
Dengan memanfaatkan lahan 2 hektare dan melibatkan kelompok tani lokal, program ini berpotensi meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperkuat perputaran ekonomi desa. Produksi jagung yang optimal dapat menekan biaya distribusi, menjaga stabilitas harga, dan memperkuat daya beli masyarakat.
Kehadiran Polri dalam aktivitas produktif semacam ini mencerminkan pendekatan pembangunan yang kolaboratif. Stabilitas keamanan dan stabilitas ekonomi berjalan beriringan. Ketika aparat dan masyarakat bersinergi mengelola potensi lokal, fondasi ketahanan ekonomi rakyat menjadi semakin kokoh.
Jika inisiatif serupa terus diperluas, maka ketahanan pangan nasional akan tumbuh sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa secara berkelanjutan. ( Dhet ).










