Home / Tak Berkategori

Sabtu, 7 Desember 2024 - 05:32 WIB

Psikolog: Candaan Tanpa Kesepakatan Berisiko Menjadi Perundungan

Gus Miftah

Gus Miftah

Anastasia Sari Dewi: Humor Sehat Butuh Empati dan Konsensus

Jakarta, suararepubliknews.com – Psikolog klinis Anastasia Sari Dewi memberikan pandangannya tentang batasan dalam bercanda, menanggapi kasus yang menyeret nama Gus Miftah terkait ucapannya yang viral dan dinilai merendahkan. Menurut Anastasia, sebuah candaan hanya dapat disebut humor jika kedua pihak memiliki kesepahaman dan merasa nyaman. Jika tidak, candaan tersebut berisiko menjadi tindakan perundungan atau bullying.

Candaan Tidak Seimbang: Dari Lucu Menjadi Lukai

Dalam wawancaranya, Anastasia menjelaskan bahwa bercanda adalah interaksi yang membutuhkan keseimbangan dan saling pengertian. “Bercanda itu ketika dua-duanya menganggap lucu, dua-duanya tertawa, dan dilakukan di antara orang-orang yang punya hubungan baik,” ujar Anastasia, Kamis (5/12).

Namun, ia menekankan bahwa jika candaan tersebut mengandung konotasi negatif, apalagi ditujukan kepada seseorang tanpa hubungan yang dekat, tindakan tersebut dapat berubah menjadi penghinaan. Hal ini, menurut Anastasia, sangat terlihat dalam kasus ucapan Gus Miftah kepada seorang pedagang es teh dan pesinden Yati Pesek.

“Kalau tidak saling kenal atau bahkan mengeluarkan kata-kata yang jelas konotasi negatif, itu sudah termasuk perundungan, bukan lagi candaan. Apalagi jika dilakukan di depan umum, dengan orang-orang di sekitar yang tertawa bersama, sementara pihak yang menjadi target tidak merasa nyaman,” paparnya.

Roasting: Persetujuan Adalah Kunci

Anastasia juga menyoroti praktik roasting, gaya humor yang sering dilakukan dalam dunia hiburan. Ia menjelaskan bahwa dalam roasting, penting untuk memiliki kesepakatan terlebih dahulu mengenai batasan topik yang akan dibahas.
“Roasting itu dilakukan berdasarkan konsensus. Kedua belah pihak harus sepakat tentang topik mana yang boleh atau tidak boleh dibahas, terutama yang sensitif. Hal ini penting agar tidak ada pihak yang tersinggung atau merasa direndahkan,” tambahnya.

Ia mengingatkan bahwa humor tanpa persetujuan dapat berisiko melukai perasaan seseorang, terutama jika dilakukan secara mendadak di tempat umum tanpa adanya pemahaman yang jelas.

Humor, Empati, dan Batasan

Kasus ini, menurut Anastasia, memberikan pelajaran penting tentang bagaimana batasan dalam humor perlu dihormati. Humor yang sehat seharusnya memperkuat hubungan sosial, bukan merusak atau menciptakan konflik.

“Humor membutuhkan empati. Kita harus peka terhadap perasaan orang lain, terutama ketika bercanda tentang sesuatu yang mungkin sensitif. Tidak semua orang menganggap hal yang sama itu lucu,” tutupnya.

Respons Publik dan Refleksi

Kontroversi ini juga membuka diskusi lebih luas tentang pentingnya kesadaran publik dalam menjaga etika dalam bercanda. Ucapan yang dianggap lucu oleh satu pihak bisa menjadi pengalaman traumatis bagi pihak lain. Oleh karena itu, memahami konteks, hubungan, dan kenyamanan dalam sebuah interaksi sangat penting untuk menghindari kesalahpahaman atau konflik sosial.

Editor: Stg
Copyright © suararepubliknews 2024

Share :

Baca Juga

Komisi I : Karakteristik Masyarakat Menjadi Salah Satu Syarat Perubahan Status Desa
Enam Fraksi DPRD Humbahas Sampaikan Pandangan Umum terhadap RAPBD 2025

Tangerang Raya

PWI Tangsel dan BRI Perkuat Sinergi Lewat Buka Puasa Bersama
PREDATOR SC (Shooting Club) Kota Tangerang Selatan  Huntting dan Bakti Sosial Kewarga Sukabumi
Kekeringan Melanda Tulungagung: Upaya Bersama untuk Mengatasi Krisis Air Bersih
Supriyadi,S.Pd.I,M.SI Anggota DPRD Kota Cimahi Fraksi PKS Gelar Reses Masa Persidangan lll Tahun 2023
Pengisian BBM Bio Solar SPBU dengan Kode Seri 34-15148.Secara Ilegal Marak Di Wilayah Hukum Polres Metro Tangerang.
PRESIDEN JOKOWI MENGHADIRI KTT G.7 DI JERMAN.

Contact Us