Saya Menangis Sepanjang Hari’, Ungkap Seorang SiswiTentang Perundungan di Sekolah
SuaraRepublikNews.Com, – Seorang siswi remaja menceritakan bagaimana perundungan yang terus menerus terjadi, termasuk penyerangan fisik dan disuruh “untuk mengakhiri hidupnya” yang membuatnya tidak masuk sekolah.
Selandia Baru.SuaraRepublikNews.com, – Pengakuan dari remaja putri tersebut, yang tidak ingin disebutkan namanya, muncul pada pekan ketika OECD (The Organization for Economic Co-operation and Development) memperingatkan dampak tingkat perundungan di Selandia Baru yang mempengaruhi kehadiran para pelajar di sekolah.
“Pada Hari hari anti bullying saya mendapatkan pukulan oleh salah satu dari mereka,” kata remaja itu. “Mereka juga menyuruh saya mengakhiri hidup saya, dan itu sering kali terjadi.”
Siswa tersebut mengatakan bahwa kesehatan mentalnya terganggu karena perundungan tersebut, yang bahkan berlanjut setelah jam pelajaran berakhir.
“Mereka akan berusaha untuk menemukan akun TikTok dan Instagram saya, dan kemudian mulai mengirimi saya pesan-pesan penuh kebencian dan penghinaan,” kata pelajar tersebut.
Dilansir dari 1news, Ibu dari siswi tersebut mengatakan bahwa kehadiran putrinya di sekolah hanya sekitar 10% selama satu semester.
“Saya merasa sangat khawatir karena sekolah dan pelajaran itu sangat penting, dan saya sangat ingin dia pergi ke sekolah, tapi dia tidak bisa beranjak dari tempat duduknya, dan itu adalah pergulatan yang berat setiap hari,” kata ibunya.
“Saya tidak masuk sekolah selama satu bulan berturut-turut, saya tinggal di rumah selama berminggu-minggu, saya menangis sepanjang hari,” kata siswa tersebut.
Laporan OECD, yang dirilis pada media lokal merekomendasikan program anti-bullying harus diterapkan untuk mengurangi masalah ini dan dengan demikian meningkatkan absensi kehadiran siswa.
“Kita tahu bahwa mereka yang diintimidasi sering kali lebih tertekan, mereka lebih cemas secara sosial, mereka sering kali takut pergi ke sekolah,” ujar Christina Salmivalli, seorang profesor psikologi di Finlandia kepada media.
OECD menyoroti sebuah kampanye atau kelompok yang dikenal dengan sebutan KiVa, yang dikembangkan di Finlandia, dan digunakan di lebih dari 20 negara.
“Ada banyak bukti saat ini yang menunjukkan bahwa program pencegahan seperti ini, terutama ketika mereka menggabungkan unsur pencegahan dan intervensi, program ini benar-benar membuat perbedaan di sekolah-sekolah,” ujar Salmivalli.
“Di setiap sekolah yang menerapkan program ini, ada tim KiVa, sebuah tim yang terdiri dari orang-orang dewasa yang dilatih untuk menangani kasus-kasus perundungan,” ujarnya.
Pemerintah telah menetapkan target 80% siswa hadir di sekolah selama lebih dari 90% waktu belajar, pada tahun 2030.
“Kami sadar bahwa perundungan di Selandia Baru, bahkan sebelum adanya laporan OECD, sudah menjadi masalah besar,” ujar Menteri Pendidikan Erica Stanford.
Ketika ditanya apakah ia akan mendukung penerapan KiVa di semua sekolah di Selandia Baru, Stanford mengatakan, “semuanya dipertimbangkan,” dan bahwa ia bekerja sama dengan para petugas pendidikan untuk itu.
“KiVa telah bekerja dengan baik di Skandinavia, ini mungkin bisa menjadi solusi untuk Selandia Baru,” tambah Menteri Pendidikan David Seymour.
Sebuah dashboard data kehadiran sekolah online baru diluncurkan minggu ini dengan tujuan untuk menciptakan “data yang lebih lengkap” mengenai alasan siswa absen dari sekolah.
Dasbor tersebut memiliki rincian 26 kode yang dapat dipilih. Sekolah dapat menandai siswa sebagai hadir atau tidak hadir, dengan opsi yang dapat dipilih jika siswa tersebut absen.
Namun, ketidakhadiran di kelas karena perundungan tidak termasuk dalam salah satu kode tersebut.
“Pemerintah akan melihat kode dan tanda kehadiran, dan kami akan melihat dampak dari perundungan. Namun kami belum bisa mengatakan apakah akan ada kode khusus seperti itu. Salah satu masalahnya adalah bahwa setiap siswa terkadang tidak melaporkan jika mereka mengalami perundungan,” kata Seymour.
“Menurut saya, salah satu hal terpenting yang dapat dilakukan pemerintah adalah menciptakan ruang belajar yang aman selama enam jam tanpa ponsel,” katanya.
Ibu dari siswa yang dirundung mengatakan bahwa putrinya kini telah pindah sekolah, namun ia ingin melihat lebih banyak pendampingan rohani dalam sistem pendidikan Selandia Baru.
“Anda tidak ingin melihat anak Anda disakiti oleh siapa pun, Anda ada di sana untuk melindungi mereka, dan para guru seharusnya menjadi pelindung bagi anak Anda, dan sayangnya begitu banyak tugas yang harus dikerjakan oleh para guru sehingga mereka tidak dapat berada di sana untuk semua murid mereka,” ujar sang ibu. (Stg)
Editor : Enjelina











