Home / Tak Berkategori

Selasa, 17 September 2024 - 05:00 WIB

Sharenting: Memahami Batasan dan Dampak Berbagi Informasi Anak di Media Sosial

Banyak orangtua yang sering membagikan kisah dan momen lucu anak-anak mereka di media sosial

Banyak orangtua yang sering membagikan kisah dan momen lucu anak-anak mereka di media sosial

Fenomena Sharenting di Era Digital: Dampak Jangka Panjang pada Privasi dan Keamanan Anak

Bandung, suararepubliknews.com – Selasa, 17 September 2024, Di era digital ini, banyak orangtua yang sering membagikan kisah dan momen lucu anak-anak mereka di media sosial. Praktik ini dikenal dengan istilah sharenting, yaitu gabungan dari kata “share” (berbagi) dan “parenting” (pengasuhan), yang menggambarkan kebiasaan orangtua memposting foto, video, dan informasi pribadi tentang anak-anak mereka secara online.

Risiko Keamanan dan Privasi dari Kebiasaan Berbagi Secara Berlebihan di Media Sosial

Meskipun sharenting umum dilakukan, banyak kekhawatiran muncul mengenai privasi dan keamanan anak. Informasi pribadi yang dibagikan orangtua dapat diakses oleh orang asing, bahkan mereka yang berniat buruk. Anak-anak juga bisa merasa terganggu di kemudian hari karena identitas digital mereka terbentuk sejak dini tanpa persetujuan.

Alasan Orangtua Melakukan Sharenting: Validasi Sosial dan Dukungan dari Komunitas

Banyak orangtua melakukan sharenting karena ingin berbagi pengalaman dalam mengasuh anak, mencari dukungan, dan mendapatkan validasi dari orang lain. Namun, batasan dalam sharenting sangat penting untuk menjaga keseimbangan antara berbagi kebahagiaan dengan tetap melindungi hak dan privasi anak-anak.

Batasan dalam Sharenting: Pertimbangkan Keamanan, Hak Anak, dan Dampak Jangka Panjang

Agar sharenting dilakukan secara bijak, ada beberapa panduan yang bisa diikuti, antara lain:

  1. Pikirkan Dampak Jangka Panjang: Pertimbangkan bagaimana anak Anda akan merasa jika informasi tersebut dilihat oleh teman atau guru mereka di masa depan.
  2. Hindari Detail Pribadi: Jangan membagikan informasi yang terlalu pribadi seperti alamat, sekolah, atau kebiasaan harian.
  3. Keamanan Anak: Pastikan foto atau video tidak mengungkapkan lokasi anak secara langsung dan gunakan pengaturan privasi di media sosial.
  4. Hormati Hak Anak: Anak memiliki hak atas privasi mereka. Minta izin mereka sebelum membagikan sesuatu, terutama ketika mereka mulai beranjak dewasa.
  5. Batasi Frekuensi: Hindari membagikan terlalu banyak konten tentang anak Anda agar privasi mereka tetap terjaga.
  6. Perhatikan Konteks Budaya: Apa yang dianggap lucu di satu budaya, mungkin tidak pantas di budaya lain.
Dampak Negatif Sharenting bagi Anak: Dari Kehilangan Privasi hingga Potensi Cyberbullying

Sharenting yang berlebihan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi anak, baik jangka pendek maupun panjang, seperti:

  1. Kehilangan Privasi: Anak mungkin merasa tidak memiliki kendali atas citra diri mereka yang sudah dibentuk oleh orang lain sejak kecil.
  2. Potensi Bullying: Foto atau video anak bisa digunakan untuk mengejek atau mengintimidasi anak di kemudian hari.
  3. Perasaan Malu: Anak mungkin merasa tidak nyaman atau malu ketika cerita atau foto pribadi mereka tersebar tanpa izin.
  4. Risiko Keamanan: Informasi yang dibagikan bisa dimanfaatkan oleh penjahat untuk kejahatan, seperti penculikan atau pencurian identitas.
  5. Dampak Psikologis: Anak mungkin merasa tertekan dengan ekspektasi orangtua yang diposting secara publik, yang dapat menimbulkan kecemasan.
  6. Keterbatasan Ekspresi Diri: Anak bisa merasa terkungkung oleh citra yang dibentuk orangtua di media sosial.
  7. Kesadaran Dini tentang Media Sosial: Anak yang terbiasa dengan media sosial sejak kecil bisa terlalu bergantung pada validasi sosial dari like, komentar, dan share.
Bijak dalam Melakukan Sharenting untuk Melindungi Hak dan Privasi Anak

Sharenting adalah fenomena yang semakin umum di era digital, tetapi penting bagi orangtua untuk memahami batasan dalam berbagi informasi tentang anak di media sosial. Dengan mengikuti pedoman yang bijak, anak-anak dapat terlindungi dari dampak negatif yang mungkin muncul di masa depan. **

Sumber:

What you need to know about “sharenting.” (n.d.) https://www.unicef.org/parenting/child-care/sharenting

Doğan Keskin A, Kaytez N, Damar M, Elibol F, Aral N. Sharenting Syndrome: An Appropriate Use of Social Media? Healthcare (Basel). 2023 May 9;11(10):1359. https://doi.org/10.3390/healthcare11101359

Cleveland Clinic. (2024). Sharing Isn’t Always Caring: The Risks and Dangers of “Sharenting.” https://health.clevelandclinic.org/sharenting

Sharenting. (N.d.) https://netsafe.org.nz/parents-and-caregivers/sharenting

Steinberg, S. B. (n.d.). Sharenting: Children’s Privacy in the Age of Social Media https://scholarship.law.ufl.edu/facultypub/779/

Sharenting. (2024) from https://www.kidshealth.org.nz/sharenting

Share :

Baca Juga

Pewarna Indonesia Bahas Festival Palalangon 2023 Dengan Ketua Sinode GKP
Generasi Muda Maluku, Ayo Jaga Perdamaian!, Komunitas Bantam Dremer Maluku: Agen Perdamaian di Tengah Isu Provokasi

Banten

Pendekar Banten Korcam Wanasalam Menabuh Genderang Perlawanan: Tolak Keras Praktik Ilegal Logo “Lebak Ruhay” di Tiket Pantai Talanca, Tuntut Penegakan Hukum Tanpa Kompromi!
Masyarakat Adat Desa Penarik Desak Provinsi Bengkulu Tindak Pergeseran Peta WIUP. CV Agung Wijaya.
Dugaan Pencemaran Lingkungan oleh PT SYAQUA: Sekjen Lembaga FPK Desak Pemerintah Bertindak Tegas
Bidang Humas Polda Maluku dan Sejumlah OKP di Ambon Vicon Bersama Divisi Humas Polri
Geng Motor di Cimahi Ditangkap: Siarkan Langsung Aksi Penganiayaan di Media Sosial
Ayu Kartini Ketua JTR Kota Tangerang Dipolisikan Diduga Lakukan Penipuan

Contact Us