BURU, SUARAREPUBLIKNEWS.COM – Desa Kayeli mendadak berubah menjadi ruang isolasi darurat tanpa sekat dan nyaris tanpa amunisi medis yang memadai.
Minggu, 26 Juli 2026, laporan yang sama dikonfirmasi oleh perangkat desa setempat, dikutip dari dokumen investigasi strategis yang diterima redaksi.
Sebanyak 13 anak berusia antara 3 tahun hingga 11 tahun ambruk dengan gejala demam tinggi yang tak mau reda.
Bintik-bintik merah mulai bermunculan di kulit mereka satu per satu.
Petugas puskesmas mendiagnosisnya sebagai Demam Berdarah Dengue, si pembunuh senyap yang selalu mengintai permukiman tropis.
Namun kali ini ada yang berbeda, dan perbedaan itulah yang membuat keresahan warga meledak menjadi kemarahan.
Mereka tidak menyalahkan hujan yang menciptakan genangan dan selokan yang jarang digunakan .
Malah menuding ke arah para personel pengamanan yang sehari-hari berkeliaran di sekitar tambang emas Gunung Botak, tak jauh dari kampung mereka.
Informasi yang beredar di antara tokoh masyarakat menyebutkan bahwa tidak lama sebelum anak-anak jatuh sakit, dua anggota PAM dirawat di Puskesmas Teluk Kayeli dengan keluhan yang persis sama.
Mereka digerogoti demam dengue.
Setelah sembuh, dua orang itu kembali beraktivitas di tengah warga.
Tidak ada pengumuman waspada, isolasi bahkan karantinapun tdak ada .
Sekitar satu bulan kemudian, satu per satu anak di Kayeli ikut merasakan panas yang menggerogoti tubuh mungil mereka.
Orang tua mulai panik. Peristiwa terjadi awalnya dari satu orang berkembang menjadi lima hingga tigabelas orang dalam waktu nsingkat.
Masyarakat kemudian menghubungkan benang merah yang mungkin terlihat samar bagi birokrat di kota, tetapi sangat jelas bagi mereka.
Sebelum bertugas mengamankan Gunung Botak, sebagian personel PAM itu baru pulang dari penugasan panjang di Papua.
Mereka pulang, langsung bergerak ke Buru, langsung turun ke lapangan, tanpa jeda pemeriksaan kesehatan yang ketat.
Dan sekarang, anak-anak yang seharusnya riang bermain di sore hari hanya bisa terbaring lemas.
Beberapa di antaranya harus dirujuk ke RSUD Lala, rumah sakit yang sebenarnya masih dalam tahap pembangunan sejak peletakan batu pertama Juli tahun lalu.
Di sinilah letak kepedihan itu: fasilitas rujukan utama yang diharapkan menjadi benteng peyelamat belum sepenuhnya siap beroperasi.
Padahal nyawa tiga belas anak berada di ujung tanduk.
Warga tidak tinggal diam.
Mereka merumuskan tuntutan yang disampaikan melalui perangkat desa kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Buru dan jajaran Forkopimda.
Tuntutan itu tidak muluk-muluk, tetapi sangat mendasar.
Pertama, lakukan fogging massal segera di seluruh wilayah Desa Kayeli dan sekitarnya.
Kedua, kirim bantuan logistik kesehatan: obat demam, cairan infus, bubuk abate untuk mematikan jentik-jentik nyamuk di bak-bak penampungan air warga.
Ketiga, evaluasi cara penempatan personel keamanan yang bertugas di Gunung Botak.
Warga meminta agar setiap personel yang datang dari luar daerah, apalagi dari wilayah endemis penyakit tropis, wajib menjalani pemeriksaan kesehatan dulu sebelum berbaur dengan masyarakat.
Jika ada yang sedang sakit, tarik dan obati dulu.
Jangan biarkan mereka lalu lalang di kampung sambil membawa potensi penyakit menular.
Permintaan itu bukan tanpa alasan.
Logika warga sederhana saja: kalau yang menjaga keamanan justru membawa bibit penyakit, lalu siapa yang melindungi kami?
Ini soal akal sehat, bukan soal melawan aparat.
Warga tidak menolak kehadiran TNI, Polri, atau Satgas.
Mereka hanya ingin prosedur kesehatan dijalankan dengan benar.
Dalam situasi seperti ini, kita bisa melihat betapa rapuhnya sistem pengawasan wabah di pelosok.
Kayeli bukanlah desa yang asing dengan nyamuk Aedes aegypti.
Nyamuk itu memang hidup di sana sejak lama.
Tapi ketika ada orang baru datang dengan virus di dalam darahnya, nyamuk lokal itu berubah menjadi kurir maut.
Mereka menggigit si pendatang yang sedang sakit, lalu menggigit anak-anak yang daya tahan tubuhnya masih rentan.
Siklus ini bisa diputus jika sejak awal ada pemeriksaan kesehatan dan jeda waktu observasi bagi setiap personel yang tiba dari penugasan jauh.
Sayangnya, hal itu terlewat begitu saja.
Kita juga perlu mencatat satu fakta penting yang tidak boleh diabaikan.
RSUD Lala, rumah sakit yang kini menjadi tumpuan rujukan, belum beroperasi penuh.
Pembangunannya masih terus dikebut setelah peletakan batu pertama pada Juli 2025.
Berita tentang proses pembangunan itu dimuat oleh TVRI News dan Lensa Maluku.
Dalam kondisi wabah yang mendesak, ketidaksiapan fasilitas ini menjadi faktor yang sangat mengkhawatirkan.
Dinkes Kabupaten Buru hingga saat ini belum memberikan keterangan resmi yang bisa meredakan kegelisahan publik.
Tidak ada pernyataan yang menjelaskan apakah sudah dilakukan pengambilan sampel darah.
Tidak ada kejelasan apakah jenis virus yang menyerang anak-anak Kayeli itu virus lokal biasa atau jenis yang ikut berpindah dari luar pulau.
Padahal, jawaban atas pertanyaan itu sangat menentukan langkah penanganan selanjutnya.
Jika ternyata virusnya adalah jenis impor, maka kita sedang berhadapan dengan kasus kelalaian prosedural yang sangat serius.
Jika ternyata virusnya jenis lokal biasa, itu pun tetap menunjukkan bahwa pengawasan endemisitas di Kayeli gagal mendeteksi gelombang serangan lebih dini.
Dua-duanya sama buruknya.
Bayangkan situasi di Kayeli saat ini.
Orang tua kehilangan waktu kerja karena harus menjaga anaknya.
Anak-anak demam tinggi di rumah yang tidak ber-AC, hanya dikompres air biasa.
Beberapa mungkin sudah kejang.
Petugas puskesmas kewalahan dengan jumlah pasien yang terus bertambah.
Dan di kejauhan, di pos penjagaan Gunung Botak, personel keamanan tetap berjaga dengan senjata lengkap, sementara warga di bawah sana berperang melawan musuh tak kasat mata yang mungkin saja terbawa dari barak-barak mereka sendiri.
Ini potret kontras yang sangat menyakitkan.
Warga tidak butuh analisis rumit.
Mereka hanya butuh fogging yang segera mengepulkan asap di pagi hari.
Mereka hanya butuh bubuk abate untuk ditabur di bak mandi.
Mereka hanya butuh obat gratis yang cukup untuk seluruh anak yang sakit.
Dan yang terpenting, mereka butuh jaminan bahwa di masa depan, tidak akan ada lagi personel yang pulang dari hutan atau dari daerah konflik lalu membawa bibit penyakit ke kampung halaman orang lain.
Ada pelajaran besar yang bisa dipetik dari Kayeli.
Operasi pengamanan sumber daya alam tidak boleh hanya berfokus pada target fisik: menangkap penambang liar, menyita alat berat, mengamankan lokasi.
Operasi itu juga harus mencakup perlindungan kesehatan warga di sekitarnya.
Protokol kedatangan personel harus setara dengan protokol masuknya barang dari luar negeri: ada karantina, ada skrining, ada masa tunggu.
Kalau tidak, yang terjadi adalah bencana seperti yang sekarang menimpa 13 anak malang itu.
Kita berharap Dinas Kesehatan Kabupaten Buru tidak menunggu korban bertambah banyak.
Jangan menunggu ada anak yang meninggal dunia karena syok dengue.
Jangan menunggu kemarahan warga meledak menjadi aksi yang tidak terkendali.
Turun sekarang, selidiki, semprot, obati, dan beri penjelasan jujur kepada publik.
Jika ada kesalahan prosedur di tubuh satuan pengamanan, akui dan perbaiki.
Tidak ada gengsi yang lebih berharga daripada nyawa anak-anak Kayeli.
Warga di sana sudah terlalu sering mendengar janji.
Kali ini mereka ingin melihat tindakan.
Mereka ingin melihat awan putih fogging membumbung di atas atap rumah mereka.
Mereka ingin melihat petugas kesehatan datang membawa kotak obat, bukan sekadar membawa formulir pendataan.
Mereka ingin mendengar pernyataan dari komandan bahwa tidak akan ada lagi personel yang turun dari kapal atau pesawat langsung menuju kampung tanpa cek kesehatan.
Jika itu semua dilakukan, mungkin kepercayaan yang mulai retak itu bisa direkatkan kembali.
Jika tidak, maka selain harus melawan virus di pembuluh darah anak-anaknya, warga Kayeli juga akan melawan rasa kecewa yang jauh lebih sulit disembuhkan.
Waktu terus berjalan.
Setiap jam adalah kesempatan bagi nyamuk untuk menggigit korban baru.
Jangan biarkan desa itu menjadi kuburan bagi anak-anak yang tidak tahu apa-apa tentang konflik tambang, tentang rotasi personel, tentang prosedur birokrasi.
Mereka hanya ingin sehat.
Mereka hanya ingin kembali berlari di jalanan tanah Kayeli sambil tertawa, bukan terbaring dengan infus menancap di lengan kecil mereka.
(Dhet)









