NAMLEA, SuaraRepublikNews.com— Sekolah seharusnya menjadi rumah kedua yang nyaman, tempat di mana setiap siswa berhak mendapatkan pelayanan terbaik, sarana lengkap, dan lingkungan yang bersih serta layak. Namun harapan itu tampaknya jauh dari kenyataan di “SMA Negeri 5 Buru, yang berlokasi di Desa Sawa, Kecamatan Lilialy, Kabupaten Buru.
Berdiri di atas lahan hampir satu hektar, sekolah ini memiliki 8 bangunan dengan total 16 ruangan. Sayangnya, bukan keindahan yang terpancar, melainkan wajah yang memprihatinkan. Bangunan-bangunan itu kini rusak parah, tidak terawat, dan dibiarkan tanpa perbaikan yang berarti — sebuah potret kelam di tengah semangat mencerdaskan anak bangsa.

“KERUSAKAN MERATA DI SELURUH SUDUT SEKOLAH”
Hasil penelusuran langsung tim media di lapangan mengungkap fakta yang menyayat hati. Kerusakan bukan hanya di satu dua titik, melainkan menyebar ke hampir seluruh sudut sekolah.
1.Dinding-dinding sekolah penuh dengan coretan liar yang tak kunjung dibersihkan.
2.Jendela rusak- kaca banyak yang pecah, bahkan bingkainya pun rusak.
3.Pintu kelas tidak bisa dikunci karena rumah kuncinya telah jebol.
4.Plafon jebol” di beberapa titik, sementara tripleks sebagai pelapis atap terlepas sepenuhnya dari rangka di sejumlah ruangan.
Pemandangan itu membuat ruang belajar terasa tidak aman dan tidak nyaman.
Fasilitas penunjang pun tak luput dari kerusakan. “Fasilitas MCK tampak tidak terawat dan sudah tidak layak digunakan. Halaman sekolah gersang, berantakan, dan belum tertata sama sekali. Kondisi ini sama sekali tidak mencerminkan lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi kebanggaan warga.
Bahkan “meja dan kursi yang digunakan siswa pun tampak seadanya, banyak yang rusak, lapuk, dan tak kunjung diganti.
“KENANGAN PAHIT ALUMNI: DARI SEKOLAH IMPIAN JADI TERLANTAR”
Keprihatinan ini turut dirasakan para alumni. Salah seorang lulusan angkatan ketiga tahun 2007 mengenang masa-masa awal sekolah ini berdiri dengan getir.
“Dulu, saat melihat denah sekolah yang dirancang, saya membayangkan: jika dibangun sesuai rencana itu, SMA 5 akan menjadi sekolah luar biasa indah, tertata rapi dari ruang, halaman, hingga taman. Kelak bisa menjadi sekolah favorit,” kenangnya.
Faktanya, pada tahun 2004, SMA 5 Buru masih menumpang di gedung Sekolah Dasar dan berada di bawah naungan SMA 3 Waeapo. Selama tiga tahun, ijazah lulusannya pun masih ditandatangani Kepala SMA 3 Waeapo.
Kini, setelah berdiri sendiri, impian untuk menjadi sekolah unggulan justru semakin menjauh.
“Dari sekolah inilah lahir generasi yang kini mengabdi sebagai TNI, PNS, guru, dan berbagai profesi lainnya. Kemajuan sekolah tidak hanya bergantung pada lingkungan sekitar, tetapi lebih kepada kepemimpinan kepala sekolah,” tegas alumni itu.
“WARGA MINTA PEMERINTAH SEGERA BERTINDAK”
Suara serupa datang dari warga sekitar. Din, warga setempat, menilai tenaga pengajar di sekolah ini sebenarnya sudah memadai. Persoalan utama, menurutnya, ada pada pengelolaan.
“Kalau tenaga guru sudah cukup memadai, tergantung manusianya. Muridnya semakin hari justru berkurang,” ujarnya.
Ia meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku segera meninjau dan merehabilitasi bangunan sekolah tersebut.
Senada, Nona Ena yang tinggal di sekitar sekolah juga menyoroti kondisi infrastruktur yang memburuk.
“Bangunannya banyak yang rusak, jendela pecah, alat praktik kurang. Semoga ditambah biar siswa di sini lebih maju, tidak kalah dengan SMA di tempat lain,” harapnya.
“KEPALA SEKOLAH BELUM BERI KLARIFIKASI”
Media telah berupaya meminta tanggapan dari Kepala Sekolah SMA 5 Buru sejak minggu lalu melalui pesan singkat dan panggilan telepon. Upaya konfirmasi kembali dilakukan pada Jumat (17/8/2026), namun hingga berita ini ditayangkan, belum ada jawaban maupun klarifikasi terkait kondisi bangunan dan sarana prasarana sekolah.
Kini, harapan tinggal tersisa di tangan warga, alumni, dan orang tua murid: semoga panggilan ini didengar. Agar SMA 5 Buru — sekolah yang lahir dari impian besar tidak sekadar berdiri tegak, melainkan hidup, berbenah, dan kembali menjadi tempat yang layak mencetak masa depan putra-putri daerah.
_Berita ini ditulis dengan mengedepankan asas keseimbangan dan membuka ruang hak jawab dan hak koreksi bagi pihak sekolah serta Dinas Pendidikan Provinsi Maluku kapan saja.( Dhet ).










