Beijing, suararepubliknews.com – Kota Changsha, ibu kota provinsi Hunan di Tiongkok Selatan, dilanda hujan deras pada Senin, 24 Juni 2024, yang menyebabkan banjir besar dan melumpuhkan aktivitas kota. Curah hujan mencapai 65,1 milimeter dalam waktu satu jam, mencatat rekor baru untuk kota tersebut di bulan Juni.
Operasi Penyelamatan dan Dampak Infrastruktur
Tim penyelamat dikerahkan untuk membantu warga yang terjebak banjir. Mereka menggunakan perahu karet untuk mengevakuasi penduduk dari rumah mereka yang terendam dan menyelamatkan pengemudi yang terjebak di jalanan. Dilansir dari media Reuters, Jalur bawah tanah dan terowongan kereta api pun terendam air, memaksa pemerintah kota untuk menutup dua jalur kereta bawah tanah dan beberapa tempat wisata.
Respon Pemerintah dan Tindakan Darurat
Menyusul banjir, pemerintah kota mengambil langkah cepat untuk menutup fasilitas publik yang terdampak. Presiden Xi Jinping sebelumnya telah menyerukan upaya maksimal untuk memerangi banjir di wilayah selatan Tiongkok, menekankan pentingnya menyelamatkan mereka yang terdampak banjir dan tanah longsor.
Kondisi Cuaca dan Perubahan Iklim
Bulan Juni yang biasanya tidak mengalami hujan deras telah mengejutkan banyak pihak, dengan intensitas hujan yang seharusnya mencapai puncaknya pada akhir Juli. Fenomena cuaca ekstrem seperti ini telah meningkatkan frekuensi badai yang tidak dapat diprediksi, menambah kerentanan kota-kota besar di Tiongkok terhadap banjir.
Dampak Jangka Panjang dan Perubahan Iklim
Kondisi cuaca ekstrem ini adalah bagian dari tren global yang lebih luas di mana perubahan iklim mempengaruhi pola cuaca, membuat bencana alam seperti banjir menjadi lebih sering dan parah. Drainase yang buruk dan urbanisasi yang cepat memperburuk situasi, membuat banyak kota besar di Tiongkok rentan terhadap banjir mendadak. Bencana yang terjadi saat ini memberikan gambaran tentang tantangan yang dihadapi kota Changsha dan pentingnya respons cepat dan efektif terhadap bencana alam di era perubahan iklim. (Stg)










